
Ringkasan Berita:
- Upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mencapai puncaknya dengan iring-iringan jenazah di Teheran pada hari Senin (6 Juli 2026).
- Pada malam hari, rombongan tiba di kota suci Qom, yang berjarak sekitar 150 km dari Teheran, dan disambut oleh puluhan ribu jemaah.
- Sebelumnya, jutaan orang telah berkumpul di jalanan Teheran untuk mengantarkan pemimpin mereka, sementara stasiun televisi pemerintah menampilkan gambar udara dari kerumunan manusia yang membawa bendera Iran dan foto Khamenei.
NEWS.COM, JAKARTA- Upacara pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mencapai puncaknya dengan prosesi pengantaran jenazah yang berlangsung di Teheran pada hari Senin (6/7/2026) kemarin.
Pada malam Senin menurut waktu setempat, rombongan jenazah tiba di kota suci Qom yang langsung disambut oleh puluhan ribu penduduk di wilayah tersebut. Kota Teheran dan Qom terletak sekitar 150 kilometer jauhnya.
Seri tersebut sebelumnya "mencapai" jutaan pengunjung yang membanjiri Teheran untuk mengantarkan pemimpin tertinggi mereka.
Stasiun televisi pemerintah Iran menampilkan gambar udara yang menunjukkan kerumunan besar manusia mengisi jalur prosesi sambil memegang bendera Iran dan foto-foto Ayatullah Ali Khamenei.
Perubahan Narasi Media Internasional
Memasuki hari keempat dari prosesi pemakaman almarhum Ayatullah Ali Khamenei, fokus berita media internasional beralih dari melaporkan jumlah massa yang sangat besar menjadi mengkaji makna simbolis politik dan geopolitik mendalam dari sebuah negara yang sedang berduka atas pemimpinnya yang gugur.
Peristiwa yang terjadi di jalan-jalan Teheran selama empat hari terakhir ini digambarkan oleh media internasional sebagai "pemakaman abad ini".
Media Barat juga memberikan liputan terhadap sebuah pemandangan yang menyedihkan, penuh kemarahan, dan kekecewaan masyarakat Iran terhadap kematian pemimpin mereka.
Sejak awal, tema utama dalam liputan internasional—mulai dari Reuters hingga Associated Press (AP), Al Jazeera, dan Deutsche Welle (DW)—adalah gelombang penduduk yang luar biasa yang menghujani ibu kota Iran.
Layar dunia menampilkan rekaman drone yang menunjukkan para pelayat berpakaian hitam mengalir di jalan-jalan utama Teheran, sebuah lautan manusia yang begitu luas hingga tampak memakan seluruh kota.
Reuters menyebutkan bahwa upacara tersebut merupakan perayaan nasional terkait keberlanjutan setelah salah satu momen paling penting dalam sejarah Republik Islam.
Agence France-Presse, yang meliput secara langsung, menyebutkan jumlah pengunjung lebih banyak dibandingkan yang hadir dalam prosesi tahun 2020 untuk Jenderal Qassem Soleimani.
Kepadatan kerumunan sangat luar biasa hingga pihak berwenang harus menyemprotkan air dari truk pemadam kebakaran untuk mendinginkan para pelayat yang terkena panas matahari bulan Juli, sebuah pemandangan duka yang luar biasa, hampir membelenggu.
Ini adalah kali terakhir saya melihatnya," ujar Maryam Alizadeh sambil menangis kepada AP. "Generasi kami hidup bersamanya selama beberapa dekade.
Financial Times melaporkan bahwa otoritas memperkirakan sekitar 12 hingga 15 juta pengunjung selama perayaan enam hari tersebut, yang akan menjadikannya salah satu upacara pemakaman terbesar dalam sejarah modern.
Sekitar dua juta perjalanan dilakukan di metro Tehran dalam waktu kurang dari dua jam saat prosesi pemakaman dimulai pada pagi hari Senin, menurut kantor berita Fars.
Liputan tersebut sangat menginspirasi, menyentuh perasaan mendalam dari warga yang sedang berduka. Reuters menggambarkan upacara pemakaman sebagai simbol yang kuat dari "tradisi Syiah tentang pengorbanan dan kesedihan."
Ditambahkan, "Simbolisme yang kuat ini terlihat sejak kematian pemimpin Iran, terlihat pada bendera berkabung berwarna hitam yang dipasang di jalan-jalan kota, bendera yang merujuk pada kematian Imam Syiah ketiga, Hussein ibn Ali."
Lyse Doucet dari BBC, yang meliput dari Teheran, menyatakan bahwa kerumunan tersebut tidak hanya sedang berduka tetapi juga merupakan bagian dari "acara yang diatur dengan terencana dan sangat bernuansa politik."
Kepemimpinan baru Iran berkeinginan menyampaikan pesan kekuatan dan perlawanan. "Pertunjukan yang ingin Iran tunjukkan kepada dunia," katanya, sebagaimana dilaporkan oleh Tehran Times, Selasa (7/7/2026).
Manifesto Geopolitik
Meskipun rasa sedih tersebut tulus dan nyata, media internasional telah memperhatikan secara intens pesan politik yang terkandung dalam duka cita yang meluas itu.
Ritual-ritual tersebut berperan sebagai wadah yang kuat untuk ekspresi ketidaksukaan terhadap Amerika dan Israel, sebuah informasi yang sering disampaikan oleh media utama.
Surat kabar Daily Mail melaporkan bahwa para pengunjuk rasa terlihat membakar bendera Inggris dan Amerika serta melemparkan batu ke foto Presiden AS Donald Trump, dengan spanduk bertuliskan "Bunuh Trump" berjejer di jalan-jalan.
Patung replika Trump dipasang di Lapangan Imam Hussein, sementara spanduk-spanduk yang menampilkan wajah Trump, Pete Hegseth, JD Vance, dan Benjamin Netanyahu, masing-masing dilengkapi dengan gambar target, dibawa melewati kerumunan.
Tim CNN di lapangan menyaksikan para pengunjung jenazah bersumpah akan melakukan pembalasan. Seorang pengunjung jenazah mengatakan kepada jaringan tersebut, "Hari ini kami berada di sini untuk upacara pemakaman pemimpin kami, ini adalah hari yang sangat sulit. Kami tidak datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, kami datang untuk membalas dendam."
Sementara Al Jazeera melaporkan bahwa "ribuan orang hadir di Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei," termasuk utusan dari Hamas dan Hizbullah yang menghadiri acara tersebut.
Perubahan rasa sedih menjadi ajakan untuk bertindak ini dianggap oleh beberapa analis sebagai keberhasilan strategis bagi Teheran.
The Wall Street Journal mengakui bahwa acara tersebut merupakan "pembangkangan besar-besaran dari Republik Islam terhadap Barat," yang diperkirakan akan menjadi salah satu pertemuan paling besar dalam sejarah.
Seorang pakar politik mengungkapkan kepada Kantor Berita Hawzah, "Kerumunan itu sendiri merupakan senjata; 15 hingga 20 juta orang yang berbaris dalam barisan adalah pernyataan hidup bahwa semangat tidak pernah padam." Bagi pihak pimpinan Iran, acara pemakaman ini menjadi momen penting untuk memperkuat posisi politik mereka.
"Legitimasi dan stabilitas proyek pasca-perang yang menghancurkan serta selama masa transisi politik yang luar biasa. Seperti burung phoenix mitos yang muncul dari abu perang, Republik Islam tampaknya sedang menciptakan legitimasi baru melalui api yang berusaha meruntuhkannya," tulis Tehran Times, merujuk pada pernyataan analis tersebut.
Anthony Howard dari Deutsche Welle berdiskusi dengan Behnam Ben Taleblu dari Foundation for the Defense of Democracies, yang menyebutkan bahwa upacara pemakaman ini menjadi kesempatan bagi pemerintah Iran untuk memperlihatkan ketangguhan mereka setelah lima minggu konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
The Guardian mencatat bahwa "besarnya jumlah dan kedalaman demonstrasi, meskipun diatur, mencerminkan perubahan arah yang luar biasa bagi sebuah negara yang beberapa bulan lalu dihiasi oleh protes."
Panggung internasional untuk solidaritas
Secara diplomatik, upacara pemakaman ini merupakan momen yang signifikan. Xinhua melaporkan bahwa pejabat dan perwakilan dari lebih dari 100 negara hadir, termasuk delegasi dari Rusia, Tiongkok, Pakistan, dan Arab Saudi.
Partisipasi internasional yang besar ini, yang terjadi meskipun ada tekanan dari Departemen Luar Negeri untuk menghalangi pejabat asing berpartisipasi, dianggap sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran dan pengingat jelas akan batasan pengaruh Amerika.
Al Jazeera melaporkan bahwa kehadiran utusan dari lebih dari 100 negara menjadikan ibu kota sebagai pusat persatuan.
Media Lebanon Al-Akhbar menyebut peristiwa tersebut sebagai "Pemakaman Abad Ini" karena pentingnya yang sangat besar secara politik.
Bergerak ke arah Qom, Najaf, dan Karbala
Masih merujuk pada laporan Tehran Times, prosesi jenazah Ayatullah Ali Khamenei dan anggota keluarganya terus berlanjut melewati kota-kota suci Qom, Najaf, dan Karbala, sebelum akhirnya dikebumikan di Mashhad, tempat kelahirannya, di makam Imam Reza (As).
Acara ini bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi juga lambang politik yang menunjukkan ketangguhan bangsa.
Seorang pengunjung upacara yang diwawancarai oleh Financial Times menegaskan tekad masyarakat Iran untuk terus melanjutkan perjuangan pemimpin mereka, dengan ajakan balas dendam terhadap ribuan korban perang.
Menurut Washington Post, proses besar di Teheran pada pagi hari Senin dihadiri oleh jutaan orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang telah memimpin selama 37 tahun.
Pada hari ketiga masa berkabung selesai, jalanan Teheran mulai sepi, tetapi suara seruan balas dendam masih terdengar.
"Upacara pemakaman ini bukan hanya sekadar prosesi perpisahan: ia merupakan pernyataan ketangguhan, bukti kemampuan bangsa dalam berduka sekaligus menunjukkan sikap pemberontakan yang tak tergoyahkan. Warisan Khamenei diyakini akan terus memengaruhi nasib Iran dan Timur Tengah bagi generasi mendatang," tutup laporan Tehran Times.