
-BALI.COM, DENPASAR -Atlet panjat tebing putri andalan Indonesia yang berasal dari Bali, Desak Made Rita Kusuma Dewi, berhasil mencatatkan prestasi luar biasa di ajang internasional.
Mendorong Made Rita membawa pulang medali emas dari kejuaraan World Climbing Series Krakow 2026 yang dihelat pada 3–5 Juli 2026 di Polandia.
Namun, di balik keberhasilan atlet dalam lomba panjat dinding dengan catatan waktu yang mengesankan yaitu 6,54 detik di nomor putri, sebuah pernyataan tiba-tiba saat wawancara dengan panitia setelah pertandingan sempat menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat.
Tidak lama setelah memastikan dirinya sebagai yang terbaik, atlet yang lahir di Buleleng ini sulit menyembunyikan rasa gugup serta perasaannya saat menghadapi sebuah wawancara.
Di tengah rasa bahagia dalam mempertahankan gelar juara, Desak mengucapkan pernyataan yang langsung menarik perhatian terkait perkembangan persiapan timnya sebelum berangkat ke Polandia.
"Sebenarnya, sebelum saya tiba di Krakow, saya menghadapi beberapa kendala karena pemerintah saya tidak mendukung kami," kata Desak Made Rita dalam sesi wawancara setelah pemberian medali tersebut.
Pernyataan tegas ini segera menyebar dengan cepat dan memicu diskusi panas mengenai perhatian pemerintah terhadap atlet berprestasi.
Pada kesempatan yang sama, ia juga menyisipkan harapan bahwa keadaan ini akan berubah di masa depan.
"Dan sekarang, saya berharap pemerintah terus memberikan dukungan kepada kami untuk pertandingan berikutnya," tambahnya.
Menyadari pernyataannya berubah menjadi isu yang memicu perdebatan dan bisa disalahpahami sebagai benturan politik, Desak Made Rita segera memberikan penjelasan melalui akun media sosial pribadinya.
Dengan sebuah unggahan yang terbuka, ia menjelaskan bahwa kalimat yang diucapkannya tidak dimaksudkan untuk menyerang siapa pun, tetapi hanya ekspresi emosi akibat beratnya tantangan fisik dan mental yang dialaminya di lapangan.
"Saya ingin menjelaskan kembali maksud dari pernyataan saya yang disampaikan kemarin. Apa yang saya sampaikan bukan merupakan bentuk pengritik terhadap pihak tertentu," tulis Desak dalam pernyataan tertulisnya.
Ia menekankan bahwa fokus utamanya pada saat itu adalah menggambarkan seberapa besar tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh tim agar dapat tampil optimal di Eropa.
"Tetapi ekspresi mengenai berbagai tantangan yang kami alami dalam partisipasi kami dalam ajang World Climbing kali ini, baik tantangan yang datang dari dalam maupun dari luar," katanya.
Selanjutnya, Desak menghargai berbagai bentuk perhatian yang selama ini telah diberikan oleh pihak pengelola olahraga di Indonesia.
Ia melihat dinamika yang terjadi sebagai bahan evaluasi agar sistem pengelolaan dan dukungan terhadap atlet nasional semakin kuat di masa depan.
"Saya juga ingin menegaskan bahwa pemerintah tetap dan terus memberikan dukungan kepada kami sebagai atlet. Dukungan ini sangat berharga dalam perjalanan kami membanggakan nama bangsa," tambah Desak.
Meskipun ada beberapa kendala, kinerja Desak Made Rita di Krakow tetap menjadi bukti nyata kemampuannya sebagai salah satu pendaki tebing tercepat di dunia.
Di kejuaraan tersebut, ia menjadi tulang punggung utama kontingen Indonesia dengan berkontribusi pada tiga medali emas di nomor perorangan putri, perak di nomor estafet campuran bersama Antasyafi Robby Al Hilmi, serta perunggu di nomor estafet putri bersama Rajiah Sallsabillah.
Pencapaian ini menjadikan Indonesia berada di posisi ketiga dalam peringkat akhir perolehan medali, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat. (*)
Kumpulan Artikel Bali