bengkalispos.com- Pemerintah Indonesia mengimbau Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk segera berhenti melakukan serangan saling di wilayah Selat Hormuz serta tetap mematuhi Perjanjian Damai yang ditandatangani di Islamabad bulan lalu.
Indonesia menganggap konflik yang kembali memanas berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia, termasuk berdampak langsung terhadap rakyat Indonesia.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan bahwa posisi Indonesia tetap sama, yaitu mendukung penyelesaian damai dan mengakhiri semua bentuk serangan di wilayah Teluk.
"MoU ditandatangani kemarin dan kami berharap kedua belah pihak akan terus mematuhi perjanjian tersebut," kata Sugiono setelah menghadiri pertemuan Komisi Bersama Kerja Sama Bilateral (JCBC) Indonesia-Vietnam yang ke-6 di Jakarta, Selasa (14/7), dilaporkan ANTARA.
Menurut Sugiono, stabilitas di wilayah Teluk merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia. Perang terus-menerus di Selat Hormuz dikhawatirkan dapat menyebabkan gangguan dalam perdagangan global, kenaikan harga energi, hingga tekanan terhadap perekonomian negara.
"Posisi kami tetap sama. Kami berharap kondisi di sana segera pulih, perdamaian tercapai, dan serangan segera dihentikan," ujar Sugiono.
Konflik Kembali Memunculkan Ketegangan Meskipun Telah Terjadi Kesepakatan Perdamaian
Tegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak meskipun kedua negara sebelumnya telah menandatangani Perjanjian Damai Islamabad pada 17 Juni.
Konflik kembali terjadi pada 7 Juli setelah muncul perselisihan mengenai kegiatan kapal-kapal perdagangan di Selat Hormuz, jalur laut penting yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak global.
Sejak saat itu, Amerika Serikat menggelar rangkaian serangan terhadap beberapa target yang dimiliki Iran. Sebagai respons, Teheran menyerang berbagai aset militer Amerika Serikat di beberapa lokasi di kawasan Teluk.
AS Mengklaim Serangan Ditujukan untuk Melindungi Pelayaran Internasional
Serangan terbaru dilakukan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada hari Senin (13/7). Washington mengatakan operasi ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan untuk menghidupkan kembali apa yang ia sebut sebagai 'blokade Iran'.
Trump juga menawarkan penerapan pajak sebesar 20 persen terhadap barang yang dibawa oleh kapal yang melewati Selat Hormuz sebagai kompensasi atas jaminan keamanan yang diberikan Amerika Serikat di jalur laut tersebut.
"Kami menerapkan kembali pembatasan lalu lintas kapal Iran, yang bertujuan hanya menghalangi perahu Iran atau pelanggan Iran untuk masuk atau keluar. Negara-negara lain tetap akan mendapatkan akses yang adil dan terbuka ke Selat Hormuz," kata Trump melalui platform Truth Social.
Tindakan tersebut diperkirakan akan memperburuk ketegangan di kawasan serta menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur perdagangan global yang melewati Selat Hormuz.