Kisah di Balik Indonesia Mengalahkan Vietnam dan Saudi Jadi Tuan Rumah Asian Taekwondo 2026 -->

Kisah di Balik Indonesia Mengalahkan Vietnam dan Saudi Jadi Tuan Rumah Asian Taekwondo 2026

30 Jul 2026, Kamis, Juli 30, 2026
Kisah di Balik Indonesia Mengalahkan Vietnam dan Saudi Jadi Tuan Rumah Asian Taekwondo 2026
Ringkasan Berita:
  • Indonesia berhasil memenangkan penawaran ATU menghadapi Vietnam dan Arab Saudi, secara resmi menjadi tuan rumah Asian Taekwondo Open 2026 di Tennis Indoor GBK Jakarta, 1–5 Agustus.
  • Keyakinan ini menjadi kesempatan diplomasi olahraga, pengembangan atlet, serta peluang mengumpulkan poin resmi World Taekwondo Grade G2.

Liputan Jurnalis news.com, Bayu Indra Permana

NEWS.COM, JAKARTA - Indonesia berhasil mengalahkan Vietnam dan Arab Saudi dalam persaingan memperebutkan gelar sebagai tuan rumah 8th Asian Taekwondo Open Championships 2026 (Grade G2).

Berkat kemenangan dalam proses penawaran, Indonesia secara resmi diberi kepercayaan untuk menyelenggarakan kejuaraan bergengsi tersebut di Tennis Indoor Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta Pusat, pada 1-5 Agustus 2026.

Kepercayaan tersebut diperoleh setelah Indonesia berhasil memenangkan proses penawaran dalam Rapat Dewan Luar Biasa Asian Taekwondo Union (ATU) di Fujairah, Uni Emirat Arab, pada Februari 2026.

Di hadapan para pemimpin ATU, termasuk Presiden ATU Kim Sang-jin, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Rafael Siagian menyampaikan persiapan Indonesia berdasarkan arahan Ketua Umum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon.

Indonesia menunjukkan kesiapan fasilitas, dukungan pemerintah, pengalaman menyelenggarakan kompetisi internasional, mutu sumber daya manusia, serta komitmen untuk memenuhi standar penyelenggaraan World Taekwondo.

Presentasi tersebut akhirnya berhasil meyakinkan ATU untuk memberikan kepercayaan terhadap Indonesia.

Ketua Umum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon menekankan bahwa keberhasilan ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari komunikasi dan kerja sama yang terus-menerus dibangun dengan komunitas taekwondo global.

"Panggung utama tidak muncul begitu saja. Ia diraih melalui kepercayaan, komunikasi yang baik, kerja nyata, dan konsistensi," kata Richard kepada awak media, Kamis (30/7/2026).

"Kepercayaan Asian Taekwondo Union terhadap Indonesia adalah tanggung jawab yang harus kami jawab dengan penyelenggaraan terbaik serta kesempatan untuk mempercepat munculnya atlet-atlet Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global," ujar Richard.

Menurut Richard, PBTI tidak hanya berfokus pada pengembangan atlet, tetapi juga memperkuat kemitraan dengan federasi taekwondo di kawasan Asia hingga World Taekwondo.

Dengan menjadi tuan rumah ajang Grade G2, atlet Indonesia memperoleh peluang lebih besar untuk merasakan suasana kompetisi global tanpa perlu berlaga di luar negeri.

"Kemenangan tidak hanya dibentuk di atas permukaan latihan. Kemenangan juga dibangun melalui kesempatan mengikuti kompetisi berkualitas," ujarnya.

"Oleh karena itu, kami berharap atlet Indonesia dapat merasakan suasana pertandingan dunia di tanah air mereka sendiri, bertemu langsung dengan atlet terbaik dari berbagai negara, sehingga mental juara mereka berkembang lebih cepat," ujar Richard.

 

Sejalan dengan Richard, Sekretaris Jenderal PBTI Rafael Siagian mengatakan bahwa momen ketika nama Indonesia diumumkan sebagai tuan rumah merupakan bukti bahwa diplomasi olahraga yang selama ini dibangun memberikan hasil.

"Saat Presiden Asian Taekwondo Union menyebut nama Indonesia sebagai tuan rumah, yang kami alami bukan hanya rasa bangga. Itu merupakan saat ketika kepercayaan dari Asia diberikan kepada Indonesia," katanya.

"Di balik keputusan tersebut terdapat kerja keras yang panjang, diplomasi, pembinaan, serta keyakinan bahwa Indonesia pantas berdiri sejajar dengan negara-negara kuat taekwondo Asia," ujar Rafael.

Rafael menganggap posisi sebagai tuan rumah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan kompetisi.

Hadiri turnamen Grade G2 di Indonesia memberi kesempatan bagi atlet nasional untuk mengumpulkan poin resmi peringkat World Taekwondo sambil sekaligus menguji kemampuan mereka melawan atlet terbaik Asia dan dunia.

"Bagi kami, nilai terbesar dalam menjadi tuan rumah bukan hanya menyelenggarakan sebuah kompetisi, tetapi memberikan kesempatan. Tidak semua atlet mampu mengikuti pertandingan internasional di luar negeri," ujar Rafael.

"Saat kejuaraan Grade G2 tiba di Indonesia, kita sedang mendekatkan impian itu kepada mereka. Anak-anak Indonesia dapat bersaing melawan atlet terbaik dunia, merasakan suasana kompetisi kelas internasional, mengumpulkan poin peringkat global, serta membangun keyakinan bahwa mereka mampu berada sejajar dan bahkan mengalahkan siapa pun," katanya.

Ia berharap kepercayaan dari ATU tidak terbatas pada keberhasilan menjadi tuan rumah, tetapi juga mampu menghasilkan lebih banyak atlet Indonesia yang mampu mencapai posisi terbaik di ajang Asia, dunia, hingga Olimpiade.

Sebelum pelaksanaan kejuaraan, PBTI mencatat bahwa 36 negara telah mendaftarkan total 478 atlet.

Indonesia menjadi kontingen terbesar dengan 233 atlet, termasuk 31 atlet dari tim nasional yang akan memanfaatkan kompetisi ini untuk mengumpulkan poin resmi dari World Taekwondo.

Selain memberikan manfaat kepada atlet, penyelenggaraan Asian Taekwondo Open 2026 diharapkan mampu meningkatkan pengalaman wasit, pelatih, staf pertandingan, serta anggota organisasi dalam menyelenggarakan kompetisi sesuai dengan standar internasional.

Tidak hanya berdampak pada prestasi olahraga, PBTI juga yakin penyelenggaraan Asian Taekwondo Open 2026 akan memberikan dampak positif terhadap sektor sport tourism.

Kedatangan ratusan atlet, pelatih, pejabat, serta utusan dari berbagai negara diharapkan mampu turut memperkenalkan budaya, masakan, dan keramahan Indonesia kepada dunia.

TerPopuler