Ringkasan Berita:
- Rektor Universitas Katolik (Unika) Weetebula Sumba Barat Daya (SBD), Dr. Wilhelmus Yape Kii, S.Pt., M.Phil., M.A menyatakan bahwa pihaknya senantiasa mempertahankan standar mutu dalam menghadapi persaingan, khususnya dengan institusi pendidikan tinggi negeri di NTT maupun secara nasional di Indonesia.
- Wilhelmus Yape Kii juga menyoroti kebijakan pemerintah yang memperbolehkan perguruan tinggi negeri menerima mahasiswa baru dengan cara yang beragam.
bengkalispos.com, TAMBOLAKA- Rektor Universitas Katolik (Unika) Weetebula Sumba Barat Daya (SBD), Dr. Wilhelmus Yape Kii, S.Pt., M.Phil., M.A menyatakan bahwa pihaknya senantiasa mempertahankan standar mutu ketika menghadapi persaingan, khususnya dengan perguruan tinggi negeri di NTT maupun secara nasional di Indonesia.
"Setiap lulusan perlu memberikan manfaat yang terasa langsung oleh masyarakat. Dengan begitu, masyarakat atau orang tua akan tertarik untuk mendanai pendidikan tinggi anaknya di Unika Weetabula, SBD," kata Wilhelmus Yape Kii, Kamis (2/7).
Wilhelmus Yape Kii juga menyoroti kebijakan pemerintah yang memperbolehkan perguruan tinggi negeri menerima mahasiswa baru dengan cara yang beragam.
"Sebagian besar perguruan tinggi negeri didanai oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan perguruan tinggi swasta yang sepenuhnya mandiri. Seharusnya pemerintah lebih bijak karena kita semua sama-sama mendidik anak bangsa," kata Wilhelmus Yape Kii.
Wilhelmus Yape Kii mengatakan, pada tahun 2026 ini, Unika Weetabula menargetkan menerima sekitar 800 hingga 1.000 mahasiswa baru. Panitia telah membuka pendaftaran mahasiswa baru dalam tiga gelombang, yaitu gelombang I, II, dan III, dengan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar mencapai lebih dari 900 orang.
Berdasarkan hasil pemilihan oleh panitia, hanya sekitar 500 calon mahasiswa baru yang dinyatakan lolos. Dari jumlah tersebut, program studi PGSD, Agama Katolik, PAUD, Pertanian, dan Peternakan menjadi yang paling diminati oleh calon mahasiswa baru.
Sekarang, panitia penerimaan mahasiswa baru kembali membuka gelombang IV hingga akhir Juli 2026. Kampus Unika Weetabula menyediakan 10 program studi yaitu Prodi PGSD, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika, Pendidikan Agama Katolik, Pendidikan IPA, Pendidikan Guru Usia Dini (PAUD), Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, dan Prodi Pertanian.
Wilhelmus Yape Kii Kaka, salah satu calon mahasiswa baru Universitas Katolik Widya Mandira Kupang mengatakan akan mendaftar pada gelombang keempat setelah mengambil formulir pendaftaran.
Ia ingin melanjutkan studi di Unika Weetabula agar lebih hemat. Selain dekat dengan orang tua, biaya pendidikan tergolong murah dibandingkan kuliah di luar Sumba. "Jika kuliah di luar Sumba pasti mahal. Mulai dari biaya perjalanan keluar Sumba, biaya sewa tempat tinggal, biaya kuliah dan lainnya. Lebih irit jika kuliah di Sumba Barat Daya," kata Wilhelmus Yape Kii.
Jual Kualitas
Untuk menarik perhatian mahasiswa baru, STIKOM Uyelindo Kupang menekankan kualitas lulusan. Selain itu, tersedia fasilitas dan prasarana yang memadai serta sumber daya manusia (SDM) yang cukup.
"STIKOM Uyelindo Kupang menekankan kualitas lulusan terbaik sebagai bagian dari menjaga keunggulan kampus. Ini menjadi salah satu daya tarik STIKOM Uyelindo saat menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Kampus menyediakan lulusan berkualitas melalui proses pembelajaran yang setara," kata Ketua STIKOM Uyelindo Kupang Dr. Reimerta N. Natonis.
Disebutkan oleh Reimerta Natonis, STIKOM Uyelindo telah membentuk sebuah tim yang bertanggung jawab dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Termasuk dalam tugasnya adalah sosialisasi dan penyampaian data mengenai berbagai hal yang tersedia di kampus tersebut.
Reimerta Natonis mengatakan, STIKOM Uyelindo terus melakukan perekrutan untuk calon mahasiswa baru. Meskipun Perguruan Tinggi Negeri (PTN) juga sedang melakukan hal yang sama.
"Secara prinsip, proses ini terus berlangsung. Seperti pasar yang khusus milik kita sendiri. Masyarakat sudah memiliki pola pikir bahwa anaknya harus kuliah, kami terus membuka pendaftaran sesuai periode penerimaan mahasiswa baru berdasarkan kalender akademik," kata Reimerta Natonis, Kamis (2/7) di ruang kerjanya.
Sampai sekarang tambah Reimerta Natonis, STIKOM Uyelindo sudah membuka pendaftaran untuk gelombang kedua hingga Agustus 2026. Secara keseluruhan, ada lebih dari 400 calon mahasiswa baru yang telah mendaftar ke STIKOM Uyelindo.
Menurut Reimerta Natonis, pendaftaran gelombang ketiga akan dimulai pada September 2026. Jumlah penerimaan mahasiswa baru meningkat setelah pendaftaran di PTN ditutup secara resmi. "Memang tidak bisa disangkal karena persepsi masyarakat lebih cenderung mengejar PTN," ujar Reimerta Natonis.
Namun, setiap perguruan tinggi pasti memiliki nilai khusus sebagai bagian dari upaya menarik calon mahasiswa baru. Tim yang dibentuk STIKOM Uyelindo hingga saat ini terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Proses pemilihan dilakukan di berbagai lokasi pertemuan masyarakat. Tujuannya adalah memberikan informasi mengenai STIKOM Uyelindo. Kampus ini menyediakan tiga jurusan yaitu teknik informasi jenjang satu, sistem informasi jenjang satu, dan teknik informatika diploma tiga.
Memang, menurut Reimerta Natonis, perguruan tinggi ini memiliki cakupan yang sangat sempit. Dengan lebih dari empat ratus peminat, pihaknya memprioritaskan perbandingan jumlah mahasiswa dan dosen. Minimal, perbandingannya adalah satu dosen mengajar untuk 30 mahasiswa.
"Penerimaan mahasiswa baru kami tidak boleh melebihi rasio jumlah dosen kami. Hal ini berdampak pada kualitas dan mutu perguruan tinggi kami," kata Reimerta Natonis.
Pada tahun ini, STIKOM Uyelindo menerima antara 300 hingga 400 mahasiswa baru. Meskipun akan ada penambahan melebihi kuota yang tersedia, pihak kampus telah menyiapkan rencana agar jumlah dosen dan mahasiswa per kelas tetap dalam batas wajar.
Bahkan, STIKOM Uyelindo mengambil dosen baru tambahan sebagai upaya untuk menyeimbangkan jumlah mahasiswa dan tenaga pengajar. Baginya, hal ini merupakan komitmen agar proses pembelajaran bagi mahasiswa dapat tercapai.
Reimerta Natonis mengatakan, kampus ini juga telah terakreditasi baik sekali dari LAM Infokom. Sementara ini, kampus itu terus berbenah agar menjadi kampus dengan akreditasi unggul. Selain itu, STIKOM Uyelindo saat ini memiliki 5 dosen bergelar doktor, dan menargetkan 15 doktor dari 30 dosen pada tahun 2028 nanti.
Secara keseluruhan, tercatat 1.115 mahasiswa aktif tersebar di tiga program studi. Biasanya, setiap program studi memiliki peminat lebih dari lima kelas. Khusus di teknik informatika diploma tiga, yang peminatnya tidak cukup banyak. Program studi ini, dirancang sebagai lulusan siap kerja.
Reimerta Natonis berharap, saat masyarakat hendak menentukan pilihan masuk Perguruan Tinggi, agar memperhatikan kualitas, sarana prasarana, dan sumber daya manusia di kampus yang akan dituju.
Gencarkan Sosialisasi
Wakil Rektor III Universitas Karyadarma (Undarma) Kupang, Pither Yesend Boimau, dalam wawancara dengan Pos Kupang, Kamis (2/7), menyampaikan bahwa saat ini institusi tersebut telah memiliki 130-an mahasiswa baru dan akan menargetkan peningkatan pada gelombang ketiga.
Mereka tetap optimis angka tersebut akan terus meningkat sepanjang gelombang ketiga berlangsung. "Saat ini jumlah mahasiswa yang telah terdaftar ada lebih dari seratus, belum mencapai seratus lima puluh, mungkin saat ini sekitar seratus tiga puluhan," ujar Pither Yesend Boimau.
Pither Yesend Boimau mengatakan, sejak semester ganjil lalu, Universitas Karyadarma Kupang terus memperluas sosialisasi penerimaan mahasiswa baru dengan menawarkan 12 jurusan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan di NTT.
"Kami berharap sebanyak mungkin warga NTT, tanpa memandang usia, bisa melanjutkan studi S1 di Undarma Kupang. Sebagai kampus yang berfokus pada penelitian, jurusan yang kami tawarkan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat," kata Pither Yesend Boimau.
Pither Yesend Boimau mengatakan, 12 jurusan yang tersedia di Undarma meliputi S1 Kebidanan yang dilanjutkan dengan Program Profesi Bidan, Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Informatika, Agribisnis, Agroteknologi, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR), Ilmu Hukum, serta Ilmu Pemerintahan.
Meskipun semua program studi memiliki peminat, menurut Pither, program yang berkaitan dengan ketahanan pangan seperti Agribisnis dan Agroteknologi masih kurang diminati. Hal ini disebabkan oleh belum optimalnya konsistensi minat siswa sejak duduk di bangku sekolah menengah.
Banyak lulusan SMK dengan jurusan Agribisnis maupun Hortikultura justru memutuskan mengambil bidang studi yang berbeda saat melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Selanjutnya, Pither Yesend Boimau menyampaikan bahwa saat ini Undarma Kupang sedang menerima pendaftaran mahasiswa baru pada gelombang ketiga yang berlangsung hingga Agustus 2026. Sebelumnya, gelombang pertama dibuka pada bulan Desember hingga Maret, sementara gelombang kedua berlangsung antara April hingga Juni.
"Kami melihat banyak calon mahasiswa yang sebelumnya mendaftar di dua universitas. Setelah pengumuman penerimaan perguruan tinggi negeri, mereka yang belum diterima kembali menghubungi kami. Oleh karena itu kami yakin gelombang ketiga akan tetap meningkatkan jumlah mahasiswa baru," kata Pither Yesend Boimau.
Untuk memperluas penyebaran informasi, Pither Yesend Boimau menyatakan bahwa Undarma Kupang menggunakan berbagai media promosi seperti Facebook, TikTok, jaringan relawan, serta alumni yang turut serta memperkenalkan kampus kepada masyarakat.
Pither juga menyampaikan bahwa secara institusi, Undarma Kupang telah memiliki status terakreditasi hingga tahun 2028. Dari 12 program studi yang ada, sebagian besar sudah terakreditasi, sedangkan beberapa lainnya masih dalam tahap penilaian lapangan.
Untuk memperluas kesempatan pendidikan, Undarma Kupang memberikan dukungan pendanaan melalui program beasiswa pihak ketiga, yaitu Beasiswa CF2 Kuliah.
Untuk Program Studi Kebidanan dan Profesi Bidan, UKT sebesar Rp10.250.000 diberikan bantuan beasiswa senilai Rp4.750.000, sehingga mahasiswa hanya perlu menanggung sekitar Rp5.500.000. Sedangkan untuk 10 program studi lainnya, UKT sebesar Rp5.714.000 mendapatkan bantuan sebesar Rp4.000.000, sehingga mahasiswa hanya perlu membayar sekitar Rp1.714.000 yang bisa dibayar cicilan dua hingga tiga kali.
Rektor UPG 1945 NTT, Uly J. Riwu Kaho, menyampaikan bahwa selama sekitar sepuluh tahun terakhir, perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia menghadapi tantangan berat karena jumlah calon mahasiswa baru terus menurun, sedangkan perguruan tinggi negeri (PTN) justru mengalami peningkatan.
Situasi ini perlu mendapat perhatian pemerintah karena berpotensi memengaruhi masa depan pendidikan tinggi di Tanah Air.
"Oleh karena itu kami melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta telah menyampaikan kepada pemerintah agar isu ini mendapatkan perhatian. Namun di sisi lain, kami sebagai PTS tidak boleh hanya menunggu. Kami harus terus melakukan perbaikan dan mengambil langkah perubahan," kata Uly Riwu Kaho, Kamis (2/7) di ruang kerjanya.
Tindakan tersebut, menurut Uly Riwu Kaho, mulai menunjukkan hasil. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di UPG 1945 NTT semakin meningkat. Bahkan pada tahun ini terjadi peningkatan yang cukup signifikan.
"Jika tahun lalu peminat sekitar 700 hingga 800 orang, tahun ini hingga gelombang pertama dan kedua sudah melebihi 1.000 calon mahasiswa yang mendaftar dan mengikuti proses seleksi. Bahkan untuk gelombang ketiga, sampai saat ini sudah hampir 300 orang yang mendaftar," kata Uly Riwu Kaho.
Uly Riwu Kaho menekankan bahwa peningkatan ini menunjukkan bahwa anggapan perguruan tinggi swasta hanya menerima mahasiswa yang gagal masuk PTN sudah tidak lagi sesuai. Meningkatnya kepercayaan masyarakat tidak lepas dari berbagai program unggulan yang mendukung mahasiswa, khususnya warga Nusa Tenggara Timur.
Salah satu program yang paling diminati adalah Gong Prestasi, yaitu jalur khusus untuk penerimaan mahasiswa baru yang memiliki prestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik, seperti olahraga, seni, musik, dan budaya.
Mahasiswa yang diterima melalui jalur tersebut mendapatkan hadiah berupa penghapusan biaya SPP. Bahkan jika mampu mempertahankan prestasi di tingkat daerah, nasional, atau internasional, penghapusan SPP diberikan hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan pendidikannya.
Tidak hanya itu, jelas Uly Riwu Kaho, UPG 1945 NTT juga memperkenalkan program yang belum dimiliki oleh perguruan tinggi lain, yaitu Jaminan Kesehatan dan Wafat bagi Mahasiswa (Jamkesmawa). Dengan program ini, seluruh mahasiswa aktif mendapatkan perlindungan kesehatan.
Jika mahasiswa mengalami penyakit yang memerlukan perawatan medis yang berat, seluruh biaya pengobatan, perawatan di rumah sakit, tindakan dokter hingga operasi ditanggung oleh universitas.(fan/pet/mey/rey)
Pilih Kampus Karena Kualitas
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Winson N. Rondo mengajak masyarakat untuk memilih universitas berdasarkan kualitasnya, bukan karena alasan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Karena, menurut Winston Rondo, kecenderungan calon mahasiswa cenderung enggan mendaftar langsung ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jika mendaftar, hal itu baru dilakukan setelah dinyatakan tidak lulus di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Seorang anggota Partai Demokrat menyatakan, kejadian semacam ini memang telah terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Artinya, banyak orang menganggap PTS sebagai pilihan yang kedua.
"Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi kita masih menganggap PTS sebagai opsi kedua," ujar Winston Rondo, Kamis (2/7).
Menurut Winston Rondo, yang perlu diperbaiki adalah menciptakan sistem pendidikan tinggi yang lebih adil. Pemerintah, PTN, dan PTS harus memiliki kesempatan promosi yang sama agar masyarakat mendapatkan informasi lengkap tentang kualitas setiap institusi pendidikan tinggi.
Selain itu, menurut Winston Rondo, akses beasiswa perlu diperluas agar tidak hanya terbatas pada PTN. Yang paling penting adalah kualitas program studi, akreditasi, serta kompetensi lulusan harus menjadi prioritas utama, bukan hanya berdasarkan status negeri atau swasta.
"PTS perlu berani menciptakan keunggulan yang berbeda. Persaingan saat ini bukan lagi hanya tentang status, tetapi lebih pada kualitas dan kepercayaan masyarakat," kata Winston Rondo.
Winston Rondo mendorong perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas dosen, kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, fasilitas pembelajaran, kerja sama dengan sektor bisnis dan industri, serta memperkuat program magang dan penempatan lulusan di dunia kerja.
Di sisi lain, kata Winston Rondo, promosi juga perlu lebih inovatif dengan menampilkan prestasi mahasiswa, kisah sukses lulusan, serta bukti nyata bahwa lulusan PTS mampu bersaing di dunia kerja maupun menjadi pengusaha.
"Jika masyarakat melihat kualitas dan prospek lulusan yang bagus, maka perguruan tinggi swasta akan menjadi pilihan utama, bukan hanya sebagai alternatif," ujar Winston Rondo.
Winston Rondo memanggil seluruh universitas di NTT untuk menjadikan peningkatan kualitas sebagai prioritas utama. Semua pihak juga harus menciptakan persaingan yang sehat, bekerja sama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NTT, serta menghasilkan lulusan yang berintegritas, kompeten, dan siap menghadapi tantangan masa kini.
Winston Rondo menyampaikan, Komisi V DPRD Provinsi NTT berkomitmen terus mendukung kebijakan yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, karena keduanya menjadi mitra penting dalam membentuk generasi unggul untuk mewujudkan NTT yang semakin berkembang.
Winston Rondo menambahkan, banyak perguruan tinggi swasta di NTT yang telah melahirkan lulusan berkompeten dan memberikan andil signifikan dalam pembangunan wilayah.
"Kepada masyarakat serta calon mahasiswa, saya berharap agar memilih universitas dengan mempertimbangkan kualitas, kesesuaian jurusan, minat, dan tujuan hidup, bukan hanya karena label negeri atau swasta," kata Winston Rondo.(fan)
60 Ribu Calon Mahasiswa Membatalkan Pendaftaran?
Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menanggapi berbagai isu yang beredar di masyarakat terkait 60.000 calon mahasiswa baru (camaba) yang disebut mundur atau tidak mendaftar kembali dalam seleksi tahun ini.
Kepala Bidang Pembelajaran dan Mahasiswa (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Beny Bandanadjaja dalam Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu (1/7) menegaskan bahwa narasi mengenai 60.000 mahasiswa yang mengundurkan diri pada tahun 2026 adalah tidak benar, karena proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri masih berlangsung hingga batas akhir pada 31 Juli 2026.
Ia menekankan angka 60.000 yang sering dibicarakan sebenarnya merujuk pada penyampaian data evaluasi tahun 2025 yang disampaikan oleh Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR RI.
Beny menjelaskan, dari total kapasitas nasional sebanyak 627.000 kursi pada tahun 2025, yang diterima melalui proses seleksi adalah 585.000 orang. Perbedaan sekitar 40.000 kursi kosong murni disebabkan oleh ketidakmampuan peserta memenuhi standar kualitas minimum, bukan karena mengundurkan diri.
"Dari 585.000 tersebut, memang benar ada yang tidak mendaftar kembali. Jika dihitung berdasarkan data tahun 2025, jumlahnya sekitar 17.000 atau sekitar 2,8 persen dari jumlah yang diterima," ujar Beny.
Berdasarkan hasil investigasi panitia seleksi, Beny menyampaikan tiga alasan utama mengapa puluhan ribu calon mahasiswa akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan pendaftaran ulang.
Alasan pertama ialah ketidaksesuaian jurusan studi. Peserta seleksi melalui jalur ujian diperkenankan memilih hingga lima jurusan, dan sering kali mereka mundur karena diterima di pilihan kedua, ketiga, atau seterusnya yang bukan menjadi prioritas utamanya.
Alasan kedua, menurut Beny, banyak peserta yang juga mengikuti seleksi perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah kementerian lain. Daya tarik ikatan dinas serta jaminan pekerjaan setelah lulus membuat sejumlah calon mahasiswa memilih meninggalkan kursi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Sementara alasan ketiga berkaitan dengan keterbatasan dana, beberapa pendaftar program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah ternyata tidak memenuhi kriteria kelayakan, sehingga mereka harus mundur sambil mencari alternatif pendanaan atau beasiswa dari sumber lain.
"Oleh karena itu mungkin akhirnya tidak bisa melanjutkan, karena tidak melakukan pendaftaran ulang terkait dengan masalah pembiayaan, mengingat biasanya yang mendaftar KIP Kuliah adalah mereka yang mengalami keterbatasan dana. Jadi ketika mereka tidak memenuhi syarat, maka tentunya tidak dapat dilanjutkan." ujar Beny Bandanadjaja. (ant)
Ikuti perkembangan berita di bengkalispos.com yang lain di GOOGLE NEWS