
PORTAL PEKALONGAN -Materi yang disampaikan oleh Prof. Sholihan merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran kitab tertentuNashaihul Ibad(karya Imam Nawawi Al-Bantani). Dalam episode ini (Bagian ke-351), fokus pembahasan berpindah ke Bab Khumasi (bab yang berisi petuah dengan 5 poin), Makalah Pertama.
Secara khusus, video ini membahas poin ke-4 dari hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:Satu orang mengatakan lima puluh ribu, yang lain mengatakan lima puluh ribu(Siapa pun yang merendahkan atau menghina lima hal, maka ia akan menderita kerugian dalam lima hal tersebut).
Berikut ini adalah penjelasan yang rinci, mendalam, dan penuh makna mengenai kajian beliau yang disusun dengan alur yang lancar dan mudah dipahami:
1. Konteks dan Kilas Balik Nasihat
Prof. Sholihan membuka acara kajian yang diadakan di Masjid At-Taqwa ini dengan momen yang istimewa, yaitu jatuh pada tanggal1 Muharram (Tahun Baru Islam)Beliau mengajak jemaah untuk bersyukur dan berdoa agar dalam setahun mendatang mereka terlindungi dari godaan iblis serta diberi kekuatan untuk semakin dekat kepada Allah.
Sebelum masuk ke inti materi baru, beliau mengingatkan kembali 3 poin yang sudah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Jika kita merendahkan 5 golongan ini, dampaknya akan kembali ke diri kita sendiri:
-
Merendahkan Ulama: Akan merugi dalam urusan agama (khasiraddin).
-
Merendahkan Pemerintah/Pemimpin: Akan merugi dalam urusan dunia (khasiraddunya).
-
Merendahkan Tetangga: Akan kehilangan banyak manfaat (khasiral manfa'ah).
Baik, fokus utama dalam studi kali ini adalah poin keempat:Menghina kerabat atau keluarga sendiri.
2. Poin Utama: Menghina Kerabat = Kehilangan Cinta Kasih
"Wamanistakhaffa bil aqribai khasiral mawaddah" Artinya: Barang siapa yang merendahkan atau menghinakan kerabatnya, maka ia akan kehilangan kasih sayang (mawaddah / mahabbah).
Prof. Sholihan menjelaskan kata merendahkandi sini dengan istilah Jawa yang sangat tepat, yaitu"ngentengke"(mengabaikan atau meremehkan). Kerabat yang dimaksud di sini adalahMinal Arham—yaitu individu-individu yang memiliki ikatan keluarga dengan kita (orang tua, anak, saudara kandung, paman, bibi, keponakan, hingga cucu).
Ia menegaskan bahwa dalam agama Islam, keharusan untuk berbuat baik kepada keluarga dekat memiliki posisi yang sangat penting. Dalam Al-Qur'an, perintah untuk berlaku baik kepada kerabat selalu disebutkan secara langsung setelah perintah untuk berbakti kepada orang tua:
-
...dengan kedua orang tua dengan baik dan kerabat dekat...Berikan kebaikan kepada kedua orang tua dan kerabat dekat.
-
Sama halnya dengan ayat khotbah yang sering kita dengar (QS. An-Nahl: 90), Allah menyuruh kita untuk bersikap adil dan melakukan kebaikan (ihsan), dan memberikan dukungan kepada keluarga besar (wa ita-i dzil qurba).
3. "Hukum Alam" dalam Hubungan Kekeluargaan
Secara logis dan sosiologis, Prof. Sholihan menjelaskan bahwa jika kita mulaingentengkekakak kita—misalnya tidak pernah datang, tidak pernah menyapa, acuh, apalagi sampai merendahkan—maka secara otomatis saudara yang lain pun akan merespons dengan sikap yang sama.
Akibatnya? Hubungan menjadi kaku. Ketika kita sedang menghadapi kesulitan atau membutuhkan bantuan, kita tidak akan mendapatkansupport systemdari keluarga besar. Bahkan dalam batas yang ekstrem, memutus ikatan persaudaraan memiliki risiko yang sangat berat: diancam tidak akan bisa merasakan aroma surga.
4. Seni Merawat Perasaan Kasih Sayang di Antara Saudara
Bagaimana cara mempertahankan kasih sayang (mawaddah) tetap berkembang pesat? Prof. Sholihan berbagi tips nyata berdasarkan ajaran agama:
-
Saling Memberi Hadiah (Tahadu Tahabbu):Memberi tidak selalu memerlukan momen istimewa atau benda mahal. Memberi merupakan cara terbaik untuk menumbuhkan rasa saling cinta.
-
Seni Saling Berkunjung (Zur Hibban Tazdad Hubban):Ia merujuk pada perkataan Arab yang maknanya adalahKunjungi secara rutin, maka akan memperkuat kedekatan cinta.Di sini terdapat seninya. Ia menghubungkannya dengan filosofi Jawa: jangan terlalu sering melekat setiap hari karena dapat menyebabkan kebosanan atau perselisihan (bumbu tembeleh), tetapi jangan terlalu lama menghilang hingga menjadi asing (mambu kembang). Perlu adanya jeda waktu yang tepat dan teratur agar setiap pertemuan terasa bermakna.
5. Cerita Menarik: Tradisi Idul Fitri di Pontianak
Untuk memberikan gambaran nyata mengenai keindahan hubungan silaturahim yang saling membalas, Prof. Sholihan menceritakan pengalamannya ketika sempat merayakan Idulfitri di Pontianak selama seminggu penuh.
Di sana, kebiasaan berhubungan silaturahmi dilakukan dengan sangat terstruktur dan luar biasa:
-
Pada hari kedua, seluruh anggota keluarga besar mengunjungi rumah pamannya yang paling tua.
-
Anehnya, pada hari-hari berikutnya, pamannya yang dihormati tidak hanya tinggal di rumah. Justrumembalas kunjunganke rumah kerabat yang lebih muda, bahkan hingga ke tingkat keponakan-keponakannya.
-
Tradisi saling mengunjungi ini mengajarkan generasi muda setempat untuk selalu siap menerima tamu, menjaga kebersihan rumah, serta menyediakan makanan khas (seperti bubur pedas atau bakso). Tidak ada istilah "cukup bertemu di masjid lalu tidak perlu berkunjung lagi." Semua dilakukan dengan tulus dan penuh rasa hormat.
6. Nasihat yang Mengharukan dari Sang Ayah (Kisah Nyata)
Kajian diakhiri dengan sebuah kisah pribadi yang sangat mengharukan. Prof. Sholihan mengingat nasihat mendiang ayahnya ketika beliau dan saudara-saudaranya masih menjadi mahasiswa dan belum menjadi orang penting.
Ayah mereka memanggil dan mengingatkan kenangan masa kecil:
Ingat masa kecil, nasi sak tumbu (nasi yang disajikan dalam wadah bambu) saja kalian saling berebut dengan damai. Besok ketika kalian sudah dewasa dan sukses, tetap jaga kerukunan itu.
Ayahnya juga memberikan nasihat yang penuh makna: jika kelak ada saudara yang sedang mengalami kesulitan atau tersesat, jangan dijauhi tetapi didekati. Dan bagi saudara yang kebetulan hidupnya lancar, jangan sampai lupa pada saudaranya yang sedang dalam kesusahan.
Pesan mendalam dari ayahnya itulah yang terus dipegang teguh oleh Prof. Sholihan hingga saat ini. Ia menceritakan bahwa keluarganya selalu berusaha hadir dalam setiap acara, sekecil apa pun (seperti wisuda atau acara keluarga) dan rutin berkumpul secara berkala—meski hanya sekadar makan singkong.telo) atau jagung rebus bersama. Sederhana, tetapi itulah inti dari kehangatan persaudaraan yang sejati.
Kesimpulan & Refleksi:Dalam poin keempat dari Bab Khumasi ini, Prof. Sholihan mengingatkan kita semua untuk tidak pernah meremehkan keluarga sendiri. Hormatilah mereka, kunjungilah mereka, dan bangun hubungan persaudaraan melalui saling berbagi. Karena ketika kita menghormati kerabat, Allah akan memberikan balasan berupa kasih sayang yang tak pernah putus dalam kehidupan kita.***