Warga Tawangsari Blitar Perbaiki Jalan Sendiri Setelah 5 Tahun Tak Direspons Pemerintah -->

Warga Tawangsari Blitar Perbaiki Jalan Sendiri Setelah 5 Tahun Tak Direspons Pemerintah

7 Jul 2026, Selasa, Juli 07, 2026
Warga Tawangsari Blitar Perbaiki Jalan Sendiri Setelah 5 Tahun Tak Direspons Pemerintah
Ringkasan Berita:
  • Warga tiga desa di Kecamatan Garum melakukan perbaikan jalan yang rusak secara mandiri menggunakan dana dari iuran bersama.
  • Ratusan juta rupiah dialokasikan untuk pembelian pasir, batu, semen, serta perbaikan penerangan jalan yang rusak.
  • Jalur yang panjangnya hampir 100 meter menjadi jalur utama untuk ratusan keluarga dan sering menyebabkan kecelakaan.
  • Setelah lama menantikan tanpa kejelasan, masyarakat memutuskan bekerja sama untuk menjaga keselamatan bersama.
 

bengkalispos.com, BLITAR– Kesabaran penduduk di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, akhirnya mencapai titik puncak.

Setelah lebih dari lima tahun menghadapi jalan yang rusak tanpa adanya perbaikan, warga memutuskan untuk bertindak sendiri dengan mengumpulkan dana dan bekerja sama memperbaiki jalur utama yang mereka gunakan setiap hari.

Tindakan mandiri ini dilakukan oleh puluhan penduduk dari Kelurahan Tawangsari dan Kelurahan Garum.

Mereka menggalang dana secara sukarela untuk membeli semen, pasir, batu, serta kebutuhan makanan bagi para relawan yang bekerja memperbaiki jalan.

Pemeliharaan dilakukan pada hari Kamis (2/7/2026) malam di jalur jalan Dusun Ngebrak, Kelurahan Tawangsari.

Meskipun dilakukan dengan cara yang sederhana, hasilnya mampu menutup puluhan lubang yang selama ini mengancam keselamatan pengendara.

Bagi masyarakat, keputusan tersebut bukan hanya sekadar memperbaiki fasilitas umum, tetapi juga wujud perhatian terhadap keselamatan bersama setelah lama menantikan kejelasan.

Dana Kumpulan Digunakan untuk Pembelian Bahan hingga Penerangan Jalan

Salah satu penggerak kegiatan, Candra Putro Sadewo, menyatakan bahwa dana yang terkumpul mencapai jutaan rupiah. Keseluruhannya berasal dari iuran masyarakat.

Dana tersebut digunakan dalam pembelian bahan seperti semen, pasir, dan batu untuk perbaikan jalan.

Selain itu, sebagian dana juga digunakan untuk membeli makanan dan minuman bagi warga yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong selama proses pengerjaan.

Tidak hanya memperbaiki jalan, warga juga membeli beberapa lampu penerangan jalan untuk mengganti lampu-lampu yang sudah lama tidak berfungsi.

Tindakan tersebut diambil mengingat kurangnya penerangan menyebabkan jalan menjadi lebih berbahaya, terutama pada malam hari.

Kerja Sama Membangun Melibatkan Penduduk Tiga Desa

Perbaikan dilakukan secara kolektif dengan pembagian tugas yang jelas. Ada warga yang mengaduk campuran material, ada yang membawa kendaraan pikap untuk mengangkut bahan, sementara lainnya menyiapkan sekop dan peralatan kerja.

Dalam satu malam, puluhan lubang di sepanjang hampir 100 meter ruas jalan berhasil ditutup menggunakan campuran semen, pasir, dan batu.

Semangat kerja sama juga melibatkan warga dari tiga dusun, yaitu Dusun Ngebrak dan Dusun Magersari di Kelurahan Tawangsari, serta Dusun Magersari di Kelurahan Garum.

Selain penduduk desa, penghuni dua kompleks perumahan di sekitar lokasi juga turut serta karena mereka juga memanfaatkan jalur tersebut sebagai jalan harian.

Akses yang Sangat Penting untuk Ratusan Keluarga

Jalan yang diperbaiki terletak di sisi barat kompleks Pasar Garum dan memainkan peran penting dalam pergerakan penduduk.

Jalan tersebut menjadi satu-satunya jalur masuk dan keluar bagi sebagian penduduk Dusun Magersari, baik yang tinggal di Kelurahan Garum maupun Kelurahan Tawangsari.

Selain menghubungkan pemukiman dengan jalan nasional di sisi utara, jalur tersebut juga berfungsi sebagai pintu masuk ke area perumahan sekitarnya.

Karena memiliki peran penting dalam aktivitas sehari-hari, kondisi jalan yang berlubang dinilai sangat mengganggu sekaligus membahayakan pengguna.

Keluhan yang Berlangsung Bertahun-Tahun Tanpa Mendapatkan Penyelesaian Keluhan yang Terus-Menerus Muncul Tanpa Adanya Solusi Masalah yang Sudah Lama Ada Tanpa Pemecahan Keluhan yang Tidak Pernah Menemui Jalan Keluar Isu yang Selama Ini Tak Kunjung Selesai Permasalahan yang Berlarut-Larut Tanpa Solusi Keluhan yang Terus Berlanjut Tanpa Hasil Masalah yang Sudah Lama Tidak Teratasi Keluhan yang Tak Pernah Direspons dengan Solusi Perkara yang Berlarut-Larut Tanpa Penyelesaian

Menurut Candra, kerusakan jalan telah terjadi selama lebih dari lima tahun. Dalam waktu tersebut, warga mengatakan pernah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak kelurahan.

Namun, usaha tersebut belum membuahkan penyelesaian yang diinginkan. Masyarakat merasa masalah ini terus berlangsung tanpa adanya tindakan perbaikan yang nyata.

Karena jalan yang rusak dan lampu penerangan yang tidak berfungsi, kecelakaan tunggal bagi pengendara sepeda motor sering terjadi, khususnya di malam hari ketika kondisi jalan sulit terlihat.

Keadaan ini akhirnya memicu masyarakat untuk mengambil keputusan untuk bertindak sendiri.

Warga Memilih Mengambil Tindakan Daripada Hanya Menunggu

Candra menyampaikan bahwa masyarakat sudah tidak lagi ingin menunggu kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam memperbaiki jalan tersebut.

Selain itu, menurutnya, warga juga mendengar tentang kebijakan penghematan anggaran di pemerintah daerah yang membuat mereka semakin pesimis bahwa perbaikan akan segera dilakukan.

Oleh karena itu, masyarakat memutuskan bekerja sama agar kondisi jalan menjadi lebih aman saat dilewati.

Bagi mereka, keselamatan pengendara jalan menjadi hal utama dibandingkan terus menunggu proses yang belum diketahui kapan akan selesai.

Perbuatan warga Garum menggambarkan bahwa budaya kerja sama masih menjadi kekuatan utama dalam masyarakat Indonesia.

Saat infrastruktur yang menjadi kebutuhan pokok belum juga diperbaiki, warga yang mampu mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dana, tenaga, dan waktu demi kepentingan bersama.

Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa partisipasi masyarakat tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang aman dan layak.

Swadaya bisa menjadi solusi sementara untuk mengurangi bahaya kecelakaan, namun perawatan jalan yang berkelanjutan tetap memerlukan bantuan pemerintah agar kualitas dan keselamatan jalan terjaga dalam jangka panjang.

Warga Lamongan Membangun Jalan Desa Secara Mandiri

Kepedulian masyarakat yang tinggal di luar daerah asal Desa Maindu, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menghasilkan dampak nyata.

Mereka secara mandiri membangun jalan desa yang selama ini menjadi kebutuhan utama bagi warga, khususnya untuk mendukung kegiatan pendidikan dan perekonomian.

Pengesahan jalan tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Selasa (30/6/2026).

Jalan sepanjang sekitar 1,6 kilometer dibangun dengan bantuan masyarakat Maindu yang tinggal di luar daerah.

Inisiatif pembangunan jalan ini diinisiasi oleh seorang pengusaha konveksi dari Maindu, Imam Mawardi Maksum, yang saat ini sedang menjalankan usahanya di Timika, Papua.

Ia bersama masyarakat pendatang lainnya mengumpulkan dukungan untuk merealisasikan akses jalan yang lebih baik bagi kampung halamannya.

Setidaknya 156 penduduk asal Maindu-Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, turut berpartisipasi dalam proyek pembangunan tersebut. Mereka tinggal di berbagai wilayah seperti Timika, Manado, Nabire, Yaukima, Jakarta, hingga Bandung.

Ini merupakan wujud perhatian kami terhadap desa. Jalan ini menjadi kebutuhan masyarakat agar aktivitas warga lebih lancar, khususnya bagi anak-anak sekolah dan roda perekonomian warga," ujar Imam kepada bengkalispos.com, Selasa (30/6/2026).

Pada tahap awal pembangunan, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp 185 juta untuk pengerjaan jalan sepanjang 1,6 kilometer.

Selain itu, terdapat pembangunan jalur akses menuju makam sepanjang 200 meter di sisi timur jalan aspal dengan anggaran sekitar Rp 102 juta.

Sebelum proses pengaspalan jalan menuju makam dilakukan, masyarakat terlebih dahulu melakukan pemadatan jalan dengan bantuan dana sekitar Rp50 juta.

Di sisi barat makam sebelumnya sudah memiliki akses jalan, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jalan utama desa.

Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan bantuan berupa peralatan dalam proses pengaspalan.

Imam mengatakan, pembangunan jalan ini masih akan terus berlangsung. Tahap selanjutnya akan fokus pada pengerjaan sekitar 2,5 kilometer dan direncanakan dilanjutkan pada tahun 2027.

Selain peningkatan kualitas jalan, masyarakat juga memiliki rencana perluasan jalan di bagian ujung selatan agar akses kendaraan menjadi lebih mudah.

"Sebelumnya perjalanan memakan waktu 20 hingga 25 menit karena jalan yang sulit, kini hanya membutuhkan sekitar lima menit," katanya.

Menurutnya, kebutuhan akan jalan yang layak sangat mendesak mengingat semakin banyak kendaraan besar yang melewati jalur tersebut dan aktivitas masyarakat yang semakin meningkat.

Infrastruktur yang memadai dianggap mampu menciptakan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Sebelum memprioritaskan pembangunan jalan, kesadaran masyarakat perantauan untuk berkontribusi dalam pemberdayaan desa telah muncul sejak pembangunan masjid pada tahun 2000.

Warga berharap bantuan pemerintah setempat tetap berkelanjutan, mengingat jalan tersebut merupakan jalur krusial bagi masyarakat.

"Kemudian diharapkan ada tambahan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lamongan karena akses ini juga sering digunakan oleh kendaraan besar," ujar Imam.

Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan bantuan dalam pembangunan jalan desa, yaitu berupa aspal dan alat berat. Sementara material lainnya seperti batu gunung (pedel) berasal dari dana swadaya tersebut.

Buat bengkalispos.com sebagai situs berita favoritmu dengan mengklik tautan ini

TerPopuler