6 Profesor UT Perkenalkan Ide AI hingga Akses Kuliah di Pengukuhan 2026 -->

6 Profesor UT Perkenalkan Ide AI hingga Akses Kuliah di Pengukuhan 2026

5 Agu 2026, Rabu, Agustus 05, 2026
6 Profesor UT Perkenalkan Ide AI hingga Akses Kuliah di Pengukuhan 2026

NEWS.COM– Perkembangan zaman senantiasa membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam proses belajar, penguatan kemampuan literasi dan numerasi, pendidikan anak yang bersifat inklusif, hingga perluasan akses pendidikan tinggi ke berbagai daerah di Indonesia.

Banyak tantangan ini menjadi benang yang menghubungkan enam pidato ilmiah dalam Pelantikan Profesor Universitas Terbuka (UT) Tahun 2026.

Bukan hanya sekadar mengakui prestasi akademik, penganugerahan gelar profesor menjadi tempat lahirnya ide-ide yang muncul dari isu nyata dan memberikan pandangan baru dalam perkembangan pendidikan serta kehidupan masyarakat.

Enam profesor diangkat pada hari pertama Pengukuhan Profesor UT Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Rabu (5/8/2026).

Pengukuhan ini adalah bagian dari rangkaian pengukuhan 12 profesor yang berlangsung selama dua hari, sekaligus menjadi momen penting dalam perayaan Dies Natalis ke-42 UT dengan tema "Mendunia melalui Inovasi, Berdampak untuk Negeri."

Topik tersebut mencerminkan komitmen Universitas Terbuka dalam terus menyajikan inovasi di bidang pendidikan tinggi yang terbuka dan jarak jauh, memperkuat peran di skala internasional, serta memberikan pengaruh nyata terhadap kemajuan pendidikan dan pembangunan Indonesia.

Perubahan dalam wajah pendidikan menjadi fokus perhatian Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., melalui pidato Rethinking Writing Instruction: Scientific Foundations and Future Directions di Universitas Pengajaran Jarak Jauh.

Dalam situasi yang semakin meningkatnya kebutuhan akan kemampuan berbahasa Inggris di lingkungan global, ia menekankan bahwa keterampilan menulis tidak hanya dapat dikembangkan melalui pemahaman tata bahasa. Menulis adalah proses berpikir yang memerlukan latihan, kerja sama, perbaikan, dan umpan balik yang terus-menerus.

Di tengah sistem pendidikan jarak jauh, Prof. Rahmat mengusulkan penguatan struktur pembelajaran dengan menggunakan diagnosis awal, program orientasi, pengawasan perkembangan siswa, serta pengelolaan tutorial yang lebih efisien. Ia juga menekankan penggunaan AI sebagai alat bantu dalam proses belajar tanpa menggantikan tugas tutor.

Perspektif ini bersatu dengan gagasan Prof. Dr. Juhana, M.Pd., yang mengangkat tema Pendidikan Bahasa Inggris yang Lebih Manusia di Era Teknologi Cerdas: Dari Pembelajaran Adaptif ke Pembelajaran yang Mengubah.

Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya memperkaya proses belajar, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris harus dirancang secara fleksibel dengan memanfaatkan teknologi canggih sebagai alat pendukung, sambil tetap memberi kesempatan kepada guru untuk membentuk empati, refleksi, rasa percaya diri, serta kemampuan berkomunikasi lintas budaya.

Jika pembelajaran bahasa menjadi bekal untuk menghadapi dunia yang semakin saling terhubung, maka penguatan kemampuan numerasi merupakan dasar yang penting dalam membangun kemampuan berpikir.

Melalui pidato "Mengembangkan Pemahaman Aljabar yang Bermakna: Integrasi Teknologi, Pedagogi Konstruktif, dan Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika", Prof. Dr. Yumiati, M.Si., memperkenalkan Model Integrasi Pembelajaran Aljabar (MIPAl).

Model tersebut menghubungkan konsep aljabar dengan budaya lokal, permainan tradisional, motif batik, anyaman, serta kehidupan sehari-hari, dengan dukungan pemanfaatan teknologi pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan pemahaman konseptual yang lebih bermakna.

Pendidikan dasar juga menjadi fokus Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd., melalui model BERLIAN dalam pidatanya mengenai pendidikan anak usia dini. Dalam konteks penguatan kebijakan wajib belajar 13 tahun, ia menegaskan bahwa kesiapan anak memasuki sekolah tidak seharusnya hanya terbatas pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Pendidikan anak usia dini harus menjadi tempat yang memberi kebebasan dan berfokus pada anak. Lingkungan pembelajaran juga perlu berakar pada budaya setempat, bersifat inklusif, serta tidak mengandung kekerasan.

Dengan pendekatan ini, anak didorong untuk mengembangkan rasa penasaran, kreativitas, empati, kemampuan berkomunikasi, serta berkembang dengan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Di luar ruang kelas, tantangan lain muncul dalam kehidupan demokrasi dan dunia digital. Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D., menyoroti peran pendidikan politik yang berlandaskan pendekatan feminis dalam sistem pembelajaran jarak jauh.

Memulai dari isu perwakilan wanita dan kekerasan berdasarkan jenis kelamin, dia menawarkan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk memahami demokrasi secara lebih kritis.

Pendekatan ini juga mendorong mahasiswa untuk menghargai keragaman, menyadari ketidakseimbangan dalam hubungan kekuasaan, serta membangun partisipasi sebagai warga digital yang kritis, etis, dan adil.

Di sisi lain, Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si., menitikberatkan perhatiannya pada kesetaraan akses pendidikan tinggi dengan menerapkan model kebijakan layanan pendidikan tinggi yang terbuka dan jarak jauh yang fleksibel serta berbasis wilayah.

Menurutnya, perluasan akses tidak hanya didukung oleh transformasi digital, tetapi juga memerlukan layanan yang dekat dengan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, UT Daerah dan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) berfungsi sebagai pusat layanan yang menghubungkan kebijakan nasional dengan kebutuhan mahasiswa melalui penyediaan informasi, bimbingan akademik, dukungan teknis, fasilitas belajar, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Meskipun berasal dari bidang ilmu yang berbeda, keenam profesor menyampaikan pesan yang sama: pengetahuan akan memiliki makna ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Berbagai pendapat yang disampaikan menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar di dalam kelas, tetapi juga tentang membangun kepribadian, memperluas peluang, memperkuat partisipasi masyarakat, serta menyediakan layanan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Semangat itulah yang mencerminkan tema Dies Natalis ke-42 UT, "Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri." Bagi UT, menjadi sebuah universitas yang memiliki cakupan global bukan hanya diukur dari pengakuan dan jaringan internasional, tetapi juga dari kemampuannya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan pengangkatan profesor tahun ini, UT kembali menunjukkan komitmennya untuk terus menghasilkan pemikiran yang sesuai dengan tantangan saat ini, memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan, serta memperkuat peran pendidikan tinggi Indonesia dalam kemajuan bangsa.

TerPopuler