Daging Berlendir dan Bau Menyengat Picu Keracunan Ratusan Siswa Jepara -->

Daging Berlendir dan Bau Menyengat Picu Keracunan Ratusan Siswa Jepara

5 Agu 2026, Rabu, Agustus 05, 2026
Ringkasan Berita:
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara melakukan pengujian sampel makanan dari program MBG di Laboratorium Kesehatan Daerah.
  • Sekitar 123 siswa dan guru dari SMP Negeri 2 Jepara diduga menderita keracunan makanan.
  • Keraguan awal mengenai penyebab keracunan berpindah pada daging sapi yang tidak layak untuk dikonsumsi.
  • Hasil uji laboratorium diperkirakan akan dirilis dalam jangka waktu tiga hingga tujuh hari.
  • Sebagian besar para korban telah pulih dan kembali melanjutkan aktivitas belajar mengajar.
 

JATENG.COM, JEPARA- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko menyampaikan bahwa sampel makanan yang diduga menjadi penyebab 123 siswa dan guru SMPN 2 Jepara keracunan telah diambil dan dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jepara, Selasa (4/8/2026).

Contoh makanan yang diuji di laboratorium berasal dari program MBG yang disebarkan oleh SPPG Bandengan 5, Senin (3/8/2026).

Berupa nasi yang disajikan dengan lauk daging teriyaki, sayuran labu siam dan wortel, lengkap dengan tempe goreng serta semangka.

Ia mengatakan, hasil pengujian laboratorium diperkirakan akan dirilis dalam jangka waktu 3-7 hari.

Untuk mengetahui penyebab ratusan siswa dan guru di SMPN 2 Jepara mengalami gejala diare, mual, serta beberapa di antaranya muntah secara bersamaan.

"Hasil pengujian laboratorium terhadap sampel makanan memerlukan waktu. Mungkin bisa dikeluarkan paling cepat dalam 3 hari, atau bisa mencapai seminggu," ujarnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (5/8/2026).

Hadi mengatakan, dugaan awal penyebab gangguan kesehatan berpindah pada irisan daging sapi dalam menu makanan yang dibagikan.

Katanya, kondisi daging yang dipotong sudah mengeluarkan bau menyengat dan berlendir.

Sehingga dianggap tidak layak untuk dikonsumsi.

Hal itu diketahui melalui pemeriksaan awal, sementara hasilnya tetap perlu menunggu uji laboratorium untuk menentukan penyebab utamanya.

Kasus keracunan tidak terjadi secara langsung. Umumnya reaksi baru muncul setelah beberapa jam setelah mengonsumsi makanan.

Misalnya, konsumsi makanan terjadi di pagi atau siang hari, namun gejalanya baru muncul pada malam hari. Oleh karena itu, identifikasi harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan," katanya.

Sebelumnya dilaporkan bahwa 123 siswa dan guru di SMPN 2 Jepara diduga mengalami keracunan akibat makanan dalam program MBG.

Empat murid dibawa ke rumah sakit, Selasa (4/8/2026) dalam kondisi lemah dan muntah.

Dari jumlah siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan, hanya satu siswa yang masih dalam proses pemulihan di rumah. Sementara siswa dan guru lainnya telah kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) setiap hari. (Sam)

TerPopuler