
MEDAN – Di bawah sinar matahari yang terik, puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) melakukan aksi protes di depan kampus mereka di Jalan Dr. TD Pardede, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, pada Rabu (26/8/2026).
Para mahasiswa meminta kejelasan mengenai masa depan pendidikan mereka setelah akreditasi UDA dicabut oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 7 Juli 2026. Keadaan ini menyebabkan kampus yang didirikan oleh keluarga almarhum DR TD Pardede tersebut memiliki status Tidak Memenuhi Syarat Peringkat (TMSP) akreditasi.
Di tengah perselisihan dualisme Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA), mahasiswa mengatakan bahwa mereka justru menjadi pihak yang paling merugi. Mereka juga menyampaikan tiga permintaan utama, mulai dari kejelasan kelanjutan pendidikan hingga kemudahan administrasi bagi mahasiswa yang ingin pindah ke universitas lain.
Koordinator Aksi Daniel Sinaga, dalam pidatonya di depan gedung Sekretariat Biro Rektor, menuntut pihak rektorat dan yayasan segera memberikan kejelasan terkait layanan akademik bagi mahasiswa.
"Kepada Bapak Rektor dan Ketua Yayasan, aksi kami ini bertujuan memohon kejelasan mengenai kelanjutan studi, proses wisuda yang tertunda, serta penghapusan hambatan administratif akibat dualisme Yayasan Perguruan Darma Agung," ujarnya dengan nada penuh perasaan.
Mahasiswa juga menolak adanya biaya sebesar Rp2 juta yang diklaim dikenakan kepada mahasiswa dalam proses pengurusan rekomendasi atau izin pindah ke institusi pendidikan tinggi lain.
Selain itu, para mahasiswa juga menuntut pengembalian biaya kuliah yang telah mereka bayarkan kepada yayasan yang bersengketa jika hak akademik mereka tidak dapat dipenuhi.
Ketidakpuasan mahasiswa semakin memuncak setelah tidak ada perwakilan yayasan yang muncul untuk berdialog dengan para demonstran. Mereka merasa bahwa konflik internal yayasan telah secara langsung memengaruhi masa depan ribuan mahasiswa.
Massa kemudian membakar ban bekas di tengah jalan sebagai wujud protes. Tindakan tersebut menyebabkan akses jalan di sekitar lokasi sementara ditutup oleh pihak kepolisian. “Jangan hanya diam di dalam. Keluarlah Pak Suryadi, temui kami para mahasiswa di sini,” ujar massa secara berulang.
Namun hingga aksi selesai, tidak ada satupun perwakilan Yayasan UDA yang keluar dari gedung untuk berbicara dengan para mahasiswa. "Kami hanya menginginkan kuliah kami jelas. Jika memang harus pindah, jangan dibuat sulit," kata salah seorang mahasiswa saat aksi berlangsung.
Masyarakat berharap pihak yayasan dan kampus segera menyelesaikan masalah tersebut. Karena, bagi mereka, setiap hari tanpa kejelasan tidak hanya memperparah perselisihan, tetapi juga mengancam masa depan para mahasiswa. (map/ila)