Densus 88 Ajarkan Bahaya Radikalisme Digital kepada Siswa SMK Negeri 2 Sorong -->

Densus 88 Ajarkan Bahaya Radikalisme Digital kepada Siswa SMK Negeri 2 Sorong

21 Agu 2026, Jumat, Agustus 21, 2026
Densus 88 Ajarkan Bahaya Radikalisme Digital kepada Siswa SMK Negeri 2 Sorong
Ringkasan Berita:
  • Densus 88 Satgaswil Papua Barat memberikan pemahaman tentang semangat kebangsaan dan pencegahan paham radikal kepada siswa SMKN 2 Kabupaten Sorong pada Jumat (21/8/2026).
  • Pendidikan ini ditujukan kepada para siswa karena masa pencarian identitas diri membuat mereka rentan terpengaruh ideologi ekstrem.
  • Petugas mengajak siswa untuk bijaksana dalam menggunakan media sosial dan kritis dalam memilah informasi guna mencegah penyebaran sikap tidak toleran di dunia digital.

SORONG.COM, AIMAS - Satgaswil Papua Barat Densus 88 memberikan pemahaman tentang semangat kebangsaan dan pencegahan paham radikal kepada siswa-siswi SMK Negeri 2 Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, pada Jumat (21/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sosialisasi yang diselenggarakan bersama oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sorong, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sorong, INKLUSI, serta Densus 88 Satgaswil Papua Barat.

Pada kegiatan sosialisasi ini, siswa diberikan pemahaman tentang ancaman radikalisme dan terorisme, khususnya kemungkinan penyebarannya di lingkungan sekolah serta melalui platform media sosial.

Kepala Tim Pencegahan Antiteror dari Satgaswil Papua Barat, IPDA M. Arfa Jaya, menyampaikan bahwa materi yang disampaikan kepada para pelajar ditujukan untuk mencegah pengaruh radikalisme dan terorisme sejak dini.

"Isi materi yang kami sampaikan kepada siswa saat ini berkaitan dengan masalah intervensi radikalisme dan terorisme di lingkungan sekolah. Selain itu, kami juga menyampaikan informasi mengenai penggunaan ponsel pintar di era digital saat ini," kata Arfa Jaya.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan penggunaan ponsel cerdas memiliki dua sisi yang berbeda.

Jika dimanfaatkan dengan baik, ponsel pintar dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa, khususnya dalam mendukung aktivitas belajar dan mengakses informasi.

Namun, penggunaan yang tidak tepat justru bisa menimbulkan dampak buruk dan merugikan diri sendiri.

"Handphone jika kita gunakan dengan baik dapat memberikan manfaat bagi kita. Namun jika digunakan secara buruk, bisa merugikan diri kita sendiri," katanya.

Arfa Jaya menyampaikan, pihaknya telah menghadapi berbagai isu terkait penggunaan ponsel yang tidak sehat.

Oleh karena itu, para siswa diimbau lebih waspada dalam memanfaatkan media sosial serta memilah informasi dan lingkungan pertemanan di dunia digital.

Arfa Jaya menyampaikan, siswa merupakan salah satu kelompok yang harus mendapat perhatian dalam upaya menghindari radikalisasi karena sedang mengalami tahap perkembangan diri dan pencarian identitas.

Menurutnya, situasi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memengaruhi atau merekrut anak-anak dan remaja melalui berbagai media digital.

"Mengapa para pelajar menjadi sasaran pencegahan radikalisasi? Karena pada masa ini mereka masih dalam proses pencarian identitas dan belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan secara negatif," ujarnya.

Ia menyampaikan, remaja yang masih berstatus sebagai pelajar dan aktif dalam penggunaan media sosial merupakan kelompok yang rentan menjadi target dari pihak-pihak yang ingin menyebarluaskan ideologi radikal.

"Tujuan mereka adalah menemukan anak-anak yang sering menggunakan ponsel. Mereka dapat lebih mudah merekrut dan memengaruhi melalui media sosial," katanya.

Oleh karena itu, Densus 88 mengingatkan siswa agar tidak terlalu mudah percaya pada informasi yang diperoleh melalui media sosial, khususnya informasi yang berisi ajakan permusuhan, kekerasan, ketidak toleranan, atau paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Arfa Jaya mengajak siswa-siswi SMK Negeri 2 Kabupaten Sorong untuk memanfaatkan teknologi dengan bijaksana, memperkuat pemahaman tentang kebangsaan serta berani menolak setiap ajakan yang cenderung pada paham radikal dan tindakan teror.

Melalui proses pembelajaran ini, diharapkan siswa mampu menjadi generasi muda yang mampu menilai informasi secara kritis, memiliki kepribadian yang tangguh, serta berperan dalam menjaga lingkungan sekolah dan masyarakat dari dampak ideologi ekstrem di masa digital.(sorong.com/taufik nuhuyanan)

TerPopuler