Ringkasan Berita:
- Anggota DPRK Sorong dari Fraksi PDI Perjuangan, Hery Widyaprasetya, menyelenggarakan edukasi tentang parenting anti-bullying dalam kegiatan Reses II Tahun 2026 di MI Negeri Sorong.
- Kegiatan yang mengundang psikolog bertujuan untuk memberikan edukasi kepada orang tua agar dapat memahami berbagai bentuk perundungan, mengenali tanda-tandanya, serta memperbaiki cara mendidik anak guna menjaga kesehatan mentalnya.
- Hery berharap langkah ini dapat menciptakan lingkungan sekolah dan rumah yang aman, bernilai empati, serta bebas dari aksi perundungan.
SORONG.COM, AIMAS - Usaha menghindari perundungan atau bullying dalam lingkungan pendidikan terus diperkuat oleh Anggota DPRK Sorong dari Fraksi PDI Perjuangan, Hery Widyaprasetya.
Dalam kegiatan Reses II Tahun 2026, anggota DPRK Sorong Hery Widyaprasetya menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan parenting kepada para orang tua siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Sorong, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, pada hari Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang diadakan di halaman MI Negeri Sorong mengusung tema “Bullying (Perundungan) Anak-anak Berhak Bahagia dengan Hidup Tenang Tanpa Perundungan”. Materi disampaikan langsung oleh Psikolog Nursiah Yusdiranti Barus.
Hery Widyaprasetya menyatakan kegiatan tersebut sebagai bagian dari komitmennya dalam memperkuat suasana yang nyaman dan mendukung kesehatan jiwa anak.
Menurutnya, pendidikan kepada para orang tua perlu dilakukan agar mereka mampu memahami berbagai bentuk bullying, mengenali tanda-tandanya, serta mengetahui cara mendukung anak ketika menjadi korban, pelaku, atau saksi dari tindakan perundungan.
"Kegiatan ini bertujuan agar para orang tua memahami perundungan, mampu mengenali tanda-tandanya, serta memiliki kemampuan dalam mendampingi anak, baik sebagai korban, pelaku maupun saksi. Bersama-sama kita wujudkan lingkungan yang aman, penuh rasa empati dan bebas dari perundungan," kata Hery.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda Reses II Tahun 2026 yang dilaksanakan selama beberapa hari.
Pada hari kelima, dirinya memilih MI Negeri Sorong sebagai salah satu lokasi untuk memberikan edukasi parenting kepada orang tua dan pihak sekolah.
Hery menilai fenomena bullying saat ini menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di antara anak-anak, dari orang tua kepada anak, maupun dari tenaga pendidik kepada peserta didik.
"Tujuannya adalah memberikan edukasi khusus kepada orang tua mengenai apa yang saat ini menjadi permasalahan atau kejadian luar biasa terkait bullying yang sering terjadi, baik di tingkat anak-anak maupun antara orang tua terhadap anak dan juga guru terhadap anak," katanya.
Ia menekankan bahwa gaya pengasuhan orang tua tidak seharusnya bertujuan membentuk anak sesuai dengan semua keinginan orang tua.
Sebaliknya, orang tua harus berperan sebagai pengarah agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kuat, disiplin dan berkarakter.
"Sebenarnya, mendidik anak bukan bertujuan membuat mereka sesuai dengan keinginan kita, melainkan lebih pada keinginan mereka sendiri; kita hanya sebagai orang tua yang memberi arahan. Agar mereka memiliki jiwa yang mandiri, pikiran yang kuat, disiplin, dan kepribadian yang baik," katanya.
Hery berharap pendidikan tersebut mampu membantu para orang tua mengevaluasi cara mendidik yang selama ini digunakan agar kesalahan dalam mengasuh anak bisa dicegah sejak awal.
“Harapan saya, kesalahan-kesalahan yang selama ini kita lakukan secara berulang dalam mendidik anak bisa kita cegah dan kita kembali pada pola yang seharusnya, agar tidak terjadi kesalahan dalam hal kesehatan mental anak-anak kita di masa depan,” ujar Hery.
Psikolog Nursiah Yusdiranti Barus menyebutkan bahwa bullying adalah kejadian yang umum terjadi dalam masyarakat.
Oleh karena itu, pendidikan mengenai anti-perundungan harus diberikan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada para orang tua.
Menurutnya, pemahaman orang tua terkait bullying sangat penting agar mereka mampu menerapkan pendidikan yang sesuai serta menghindari terjadinya tindakan perundungan di lingkungan sekolah maupun rumah.
"Orang tua juga harus menyadari apakah tingkah lakunya sudah benar dan baik. Jangan sampai orang tua justru menjadi pelaku bullying terhadap anak-anaknya di rumah," kata Nursiah.
Ia menilai program parenting mengenai anti-bullying perlu dilaksanakan di setiap sekolah karena orang tua memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan kepribadian anak.
Nursiah mengingatkan para orang tua agar menciptakan komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka. Orang tua sebaiknya menyediakan ruangan yang nyaman sehingga anak merasa aman untuk berbagi pengalaman, masalah, atau keluhan yang sedang mereka alami.
"Setiap orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anaknya, menciptakan suasana yang aman agar anak-anak dapat berbicara dan menyampaikan keluh kesah mereka di rumah," ujarnya.
Dengan adanya komunikasi yang efektif, anak akan merasa lebih nyaman untuk menceritakan masalah yang mereka alami, termasuk ketika menjadi korban intimidasi.
Selain itu, Nursiah mengajak para orang tua untuk mendidik anak-anak dengan penuh perhatian dan memberikan pemahaman tentang batasan dalam pergaulan, termasuk membedakan antara bersenda gurau dan tindakan yang sudah menunjukkan tindak kekerasan.
"Orang tua juga mengajarkan anak dengan penuh rasa empati, menjelaskan mengenai batasan dalam pergaulan, batasan antara bersenda gurau dengan tindakan-tindakan lainnya agar tidak berlebihan atau menyebabkan tindakan perundungan," katanya.
Ia juga menekankan arti pentingnya teladan dari orang tua. Menurutnya, anak cenderung meniru tindakan yang mereka amati di rumah.
Oleh karena itu, ketika orang tua menunjukkan cara berbicara, bersikap, dan berperilaku baik terhadap orang lain, nilai-nilai tersebut kemungkinan besar akan ditiru oleh anak saat berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah.
"Orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak, sehingga anak dapat melihat bagaimana cara berperilaku dan berbicara dengan benar. Pelajaran yang diberikan di rumah akan diikuti dan diterapkan di sekolah dalam cara dia berinteraksi dengan teman-temannya," kata Nursiah.(sorong.com/taufik nuhuyanan)