Eksodus Masal Mengguncang Israel, 270 Ribu Warga Tinggalkan Negara -->

Eksodus Masal Mengguncang Israel, 270 Ribu Warga Tinggalkan Negara

4 Agu 2026, Selasa, Agustus 04, 2026
Eksodus Masal Mengguncang Israel, 270 Ribu Warga Tinggalkan Negara
Ringkasan Berita:
  • Penelitian dari Universitas Tel Aviv menunjukkan bahwa 270.000 penduduk Israel meninggalkan negaranya selama periode 2023 hingga 2025, angka ini menjadi yang terbesar dalam sejarah.
  • Para peneliti memberi peringatan bahwa tren ini dapat mengganggu keseimbangan demografi dan melemahkan daya saing ekonomi Israel yang bergantung pada sumber daya manusia berkualitas.
  • Konflik yang berlarut dinyatakan sebagai salah satu penyebab utama migrasi, menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap perekonomian, pasar tenaga kerja, serta stabilitas Israel.

NEWS.COM –Pergeseran penduduk Israel mencapai angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para akademisi Universitas Tel Aviv dan diterbitkan dalam harianYedioth Ahronothmenunjukkan bahwa 270.000 warga Israel meninggalkan negaranya selama periode 2023 hingga 2025, di tengah konflik bersenjata yang berlangsung terus-menerus, khususnya perang di Jalur Gaza.

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang perang terhadap kondisi demografis, ekonomi, serta ketersediaan tenaga kerja berketerampilan di Israel.

Berdasarkan penelitian tersebut, sebanyak 86.509 penduduk Israel meninggalkan negara mereka untuk jangka waktu yang lama sepanjang tahun 2023.

Angka tersebut kembali naik menjadi 91.499 orang pada tahun 2024, lalu tetap berada di tingkat yang tinggi dengan jumlah 90.922 orang sepanjang tahun 2025.

Secara keseluruhan, sekitar 268.930 penduduk Israel tercatat pindah dari negaranya dalam tiga tahun terakhir. Angka ini setara dengan rata-rata sekitar 90 ribu imigran per tahun, jauh lebih besar dibandingkan periode 2010–2019 yang rata-ratanya hanya sekitar 60 ribu orang per tahun.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah imigran dalam tiga tahun terakhir melebihi masa 2013–2015, saat jumlah penduduk Israel yang tinggal di luar negeri secara permanen mencapai sekitar 183.219 orang.

Para ilmuwan menganggap kenaikan ini menunjukkan perubahan penting dalam pola migrasi Israel yang selama bertahun-tahun cenderung tetap.

Dokter hingga Insinyur Memilih Pergi dari Israel

Kepala peneliti studi tersebut, Profesor Itai Ater dari Coller School of Management, Universitas Tel Aviv, menyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk yang memilih tinggal di luar negeri adalah hal yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, masalah utama bukan hanya jumlah emigrasi yang tinggi saat ini, tetapi kemungkinan tren ini akan terus meningkat dalam tahun-tahun berikutnya.

"Bahaya sesungguhnya terdapat pada kehilangan keseimbangan dan kemungkinan bahwa jumlah imigran akan terus bertambah, bukan tetap berada pada tingkat saat ini," kata Ater.

Laporan Yedioth Ahronothjuga merujuk pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa arus migrasi tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga para profesional seperti dokter, insinyur, akademisi, pemegang gelar doktor (Ph.D.), hingga kelompok berpenghasilan tinggi.

Peristiwa ini dianggap sebagai isu penting karena perekonomian Israel sebelumnya sangat bergantung pada kualitas tenaga kerja, terutama dalam bidang teknologi tinggi dan industri berbasis ilmu pengetahuan.

Surat kabar itu menyebutkan bahwa Israel memiliki keterbatasan sumber daya alam, sehingga kemampuan ekonominya banyak didukung oleh tenaga kerja yang berpendidikan tinggi.

Jika arus migrasi tenaga ahli terus berlangsung, keadaan ini dikhawatirkan akan berdampak pada tingkat produktivitas serta kompetitif ekonomi negara dalam jangka panjang.

Perang yang Berlangsung Lama Dianggap Sebagai Salah Satu Penyebab

Penelitian ini diterbitkan saat Israel terus melakukan operasi militer di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023.

Selain wilayah Gaza, pasukan militer Israel juga memperluas operasi mereka ke berbagai daerah lain seperti Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran, yang menyebabkan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Para ilmuwan mengatakan bahwa konflik yang berlarut-larut dianggap sebagai salah satu faktor yang memengaruhi keputusan sebagian penduduk untuk meninggalkan Israel.

Namun, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa perang adalah satu-satunya faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah imigran.

Data militer Israel menunjukkan setidaknya 966 prajurit Israel gugur sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Di sisi lain, menurut data resmi, jumlah penduduk Israel saat ini telah melebihi 10 juta orang.

Meskipun jumlah imigran sekitar 268.000 orang masih merupakan bagian kecil dari keseluruhan populasi, para ilmuwan menganggap tren peningkatan penduduk yang memilih tinggal di luar negeri perlu mendapatkan perhatian serius.

Jika terus berlangsung, kejadian ini berpotensi mengganggu keseimbangan populasi, pasar kerja, serta prospek pertumbuhan ekonomi Israel di masa depan.

(news.com / Namira)

TerPopuler