PONTIANAK — Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat tiba-tiba menjadi perhatian global. Angin kencang dari arah timur dan tenggara membawa kabut asap tebal melewati batas wilayah, mengganggu kegiatan masyarakat di Sarawak, Malaysia, serta menyebabkan peningkatan Indeks Pencemaran Udara hingga mencapai tingkat berbahaya.
Wakil Menteri Perencanaan Kota, Administrasi Tanah, dan Lingkungan Sarawak, Datuk Len Talif Salleh, secara terbuka mengonfirmasi bahwa kabut asap yang saat ini meliputi wilayah perbatasan disebabkan oleh kepulan asap dari wilayah Kalimantan Barat.
"Kami memantau situasi setiap jam dan secara bersamaan memberikan saran kepada seluruh penduduk untuk waspada serta mengurangi kegiatan di luar," kata Datuk Len Talif Salleh saat menyampaikan kondisi terkini di wilayahnya.
Ia mengungkapkan bahwa kabut asap ini telah memengaruhi kualitas udara di beberapa titik penting, seperti Kuching, Samarahan, Sibu, dan Sarikei hingga mencapai tingkat yang tidak sehat. Bahkan, angka polusi di Tebedu dan Serian telah melebihi ambang batas kritis 200 IPU, yang berakibat pada penutupan mendadak 113 sekolah untuk melindungi siswa dari ancaman penyakit pernapasan.
Meskipun kualitas udara di negaranya semakin memprihatinkan, Pemerintah Sarawak memutuskan untuk tidak terburu-buru melakukan intervensi cuaca dan masih mengandalkan prediksi hujan alami dalam beberapa hari ke depan.
"Sampai saat ini belum ada operasi pembuatan awan, tetapi kita melihat bagaimana situasinya akan berubah dalam seminggu ke depan," tambah Len Talif sambil berharap potensi hujan di Kalimantan juga dapat membantu memadamkan api.
Di sisi lain, peningkatan jumlah titik panas di Kalimantan Barat yang mencapai 2.812 titik mendorong pihak otoritas penanggulangan bencana Indonesia untuk segera mengambil langkah tegas. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan langsung memperketat pengawasan di daerah merah perbatasan seperti Sambas dan Bengkayang agar mengurangi kemungkinan 'ekspor' asap ke negara tetangga.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, menekankan perlunya memperkuat tim patroli bersama yang melibatkan TNI, Polri, dan warga sekitar guna mengurangi tingkat kebakaran di wilayah perbatasan negara.
"Kita perlu memperkuat langkah pencegahan di wilayah perbatasan negara. Meskipun arah angin saat ini bergerak dari tenggara ke barat dan tidak dapat dikendalikan, upaya pencegahan tetap harus diperkuat," tegas Yudho Shekti Mustiko. (*)