
bengkalispos.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa Indonesia sejak awal kemerdekaannya menganut prinsip kesetiaan tunggal dan tidak memiliki sistemkewarganegaraan ganda.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap wacana kewarganegaraan ganda yang kembali menjadi perbincangan setelah pidato Presiden RI Prabowo Subianto belakangan ini.
Hasto menyatakan aturan mengenai kewarganegaraan di Indonesia sejatinya merujuk pada sejarah ketika Tanah Air menghadapi dua kekuatan besar setelah memperoleh kemerdekaan.
Dari sana, Indonesia memutuskan untuk tidak mengakui kewarganegaraan ganda agar kesetiaan warga tetap satu arah."Ketika Indonesia merdeka, diperlukan adanya kesetiaan tunggal yang digambarkan dalam sistem kewarganegaraan kita, yang tidak mengakui kewarganegaraan ganda," kata Hasto menjawab para jurnalis di Jakarta, Senin (17/8).
Lulusan Universitas Pertahanan (Unhan) menyadari adanya perubahan aturan terkait kewarganegaraan guna mempertimbangkan nasib anak yang lahir dari pernikahan antara warga negara Indonesia dengan orang asing.
Hasto mengatakan aturan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan kewarganegaraan yang diinginkan setelah mencapai usia yang cukup.
"Kami memberikan hak otonomi kepada anak dari pernikahan campuran tersebut untuk menentukan kewarganegaraannya ketika telah berusia 18 tahun," katanya.Ia menyatakan bahwa sikap PDIP akan sesuai dengan aspek sejarah dan peraturan yang berlaku dalam menghadapi wacana kewarganegaraan ganda terbatas.
"Maka, sikap PDIP sesuai dengan konteks sejarahnya dan perundang-undangannya, bahwa kita tidak mengenal kewarganegaraan ganda," ujar Hasto.
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengemukakan gagasan kewarganegaraan ganda yang terbatas dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8)."Hari ini, saya sampaikan kepada dewan nasional pemerintah Indonesia, usulan kami agar memberikan izin dualitas kewarganegaraan kepada para bakat-bakat spesifik yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia," ujarnya.
Prabowo menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak putra-putri terbaik yang tinggal di luar negeri dan menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, ahli kecerdasan buatan, peneliti, pengusaha, seniman, atlet khususnya pemain sepak bola, hingga profesional berlevel internasional.
Kepala negara menyebutkan bahwa sebagian dari mereka terpaksa memperoleh kewarganegaraan lain karena alasan karier, keluarga, atau tugas di luar negeri.
"Kita tidak boleh memaksa bakat terbaik Indonesia memilih antara kesempatan untuk berkarya di luar negeri dan ikatan mereka terhadap tanah air," kata Prabowo. (ast/jpnn)
Simak! Video Pilihan Redaksi: