bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah yang dipimpin oleh Prabowo Subianto, yang cenderung berfokus pada dalam (inward looking) dan mengabaikan sektor luar negeri. Didik berpendapat, saatnya pemerintah beralih ke perspektif yang lebih fokus pada dunia luar (outward looking).
Kekurangan atau bahkan kesalahan dalam kebijakan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, terutama satu hal yaitu mengabaikan sektor luar negeri. Semua usaha dan dinamika yang terjadi selama ini terlaluinward looking"Hanya sektor dalam negeri yang dihiasi oleh berbagai kontroversi kebijakan, namun hasilnya tetap tumbuh secara moderat sekitar 5 persen," ujar Didik dalam pernyataannya kepadabengkalispos.com, Ahad (9/8/2026).
Ia menganggap, selama ini pengeluaran pemerintah tidak akan bertahan lama karena hanya berfungsi sebagai penopang agar pertumbuhan ekonomi tidak turun di bawah 5 persen. Terlebih lagi, kebijakan fiskal juga menghadapi kendala baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, sehingga tidak akan bertahan lama dan hanya mampu menjadi penyangga dalam jangka waktu yang sangat singkat.
Selain itu, aspek pengeluaran masyarakat tidak lagi dapat diandalkan sepenuhnya. Karena kelas menengah telah mengalami penurunan jumlahnya, hal ini menghambat pertumbuhan ekonomi yang berasal dari sisi konsumsi masyarakat.
Didik mengatakan, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar memang memiliki pasar domestik yang luas. Namun permasalahannya bukan hanya bergantung pada konsumsi dalam negeri yang besar, melainkan dunia usaha Indonesia mampu meningkatkan kualitasnya karena diwajibkan dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar internasional.
“Di sinilah kebijakan outward lookingsangat penting karena mampu mendorong Indonesia tetap berada dalam persaingan global dengan harapan dapat mendapatkan devisa yang besar,” katanya.
Ia berpandangan, jika inward lookingterus berjalan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak akan melebihi tingkat yang saat ini dicapai. Hal ini dianggap perlu disadari karena faktor ekspor belum menjadigrowth enginesangat mampu mendorong perubahan dalam sektor industri.
Meskipun pasar dalam negeri sangat penting bagi sebuah negara sebesar Indonesia, pasar domestik saja tidak cukup untuk menciptakan industrialisasi yang berkelas global.
"Untuk sampai ke sana tidak ada jalan lain selain mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan berorientasi ekspor," tegasnya.
Didik mengatakan, dengan kebijakan yang diterapkan selama ini, pertumbuhan ekonomi tidak mungkin bisa mencapai tingkat Vietnam, yang mampu mencatatkan pertumbuhan tahunan hingga 8,3 persen.
Selanjutnya, dengan mengubah kebijakan ekonomi Lebih jauh lagi, dengan merombak kebijakan ekonomi Kemudian, dengan melakukan perubahan terhadap kebijakan ekonomi Berikutnya, dengan mengganti kebijakan ekonomi Lanjutnya, dengan melakukan transformasi terhadap kebijakan ekonomiinward looking menjadi outward looking,investasi asing akan masuk karena adanya sistem insentif, dukungan infrastruktur yang memadai serta birokrasi yang ramah dan efektif.
Pada saat yang bersamaan, investasi domestik dapat berkembang seiring dengan masuknya investasi asing akibat kebijakan yang berorientasi ekspor. Sektor industri akan tumbuh jauh lebih baik dibandingkan saat ini berkat dukungan sumber daya nasional yang kuat (resource based industry).
Pemerintah perlu meninjau kembali kebijakan ekonomi guna mengatasi kelemahan yang selama ini terjadi. Untuk mencapai pertumbuhan sebesar 7—8 persen seperti Vietnam, perubahan arah kebijakan ekonomi dariinward looking menjadi outward lookingharus dilakukan secara mutlak. Jika tidak, dan hanya mengandalkan sumber daya yang ada di dalam negeri, maka tidak akan puas dengan tingkat pertumbuhan yang moderat sebesar 5 persen atau bahkan lebih rendah. Tanpa adanya perubahan kebijakan, janji kampanye sulit untuk dapat tercapai," jelasnya.
Gambaran mengenai peralihan tersebut kelak berupa fokus pada penetrasi pasar global dengan industri yang memiliki daya saing tinggi, penekanan pada ekspor, serta memanfaatkan investasi dansupply chain global.
"Ketika sektor luar negeri dihitung ulang dengan kebijakan yang tepat, maka pertumbuhan yang lebih tinggi dapat tercapai," tegasnya.
Ia menambahkan, Indonesia pernah memilikibest practice strategi outward looking.Yaitu seperti yang terjadi pada tahun 1980-an, di mana negara mendorong investasi dan industri yang berfokus pada ekspor.
“Pada tahun 1980-an kebijakan outward lookingini menghasilkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7—8 persen dalam jangka dua puluh tahun. Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi tinggi tiga dekade yang lalu. Pengeluaran pemerintah tidak dapat diandalkan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi," tutupnya.