
Ringkasan Berita:
- Dokter mengatakan bahwa usia paling cocok untuk memulai pelatihan toilet adalah antara 18 bulan hingga 3 tahun, dengan memperhatikan kesiapan perkembangan setiap anak.
- Pelatihan toilet membantu anak belajar mengenali keinginan buang air kecil dan besar, menyampaikannya, serta menggunakan toilet secara mandiri.
- Orang tua harus bersabar, mengenali tanda-tanda si kecil siap, serta mendukung proses penguasaan toilet dengan cara yang menyenangkan.
NEWS.COM - Pelatihan toilet merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan anak yang menunjukkan peralihan dari ketergantungan pada popok menuju kemampuan untuk mengontrol kebiasaan buang air sendiri.
Pada tahap ini, anak tidak hanya sedang belajar menggunakan kamar mandi.
Namun, mereka juga mulai memahami tanda-tanda tubuh saat ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB), menyampaikan kebutuhan mereka kepada orang tua, hingga membentuk kebiasaan hidup yang bersih dan mandiri.
Meski terlihat sederhana, proses tersebut melibatkan kesiapan fisik, perkembangan saraf, kemampuan berbahasa, serta kematangan emosional anak sehingga tidak dapat dipaksakan atau disamakan pada setiap individu.
Banyak orang tua yang bertanya kapan waktu paling tepat untuk memulai pelatihan toilet.
Beberapa orang khawatir anaknya terlambat berhenti menggunakan popok, sementara yang lain justru mulai melatih sejak usia yang masih terlalu dini dengan harapan prosesnya bisa lebih cepat berhasil.
Padahal, para ahli menilai bahwa keberhasilan toilet training lebih dipengaruhi oleh kesiapan anak dibandingkan usianya semata.
Mulai berlatih sebelum anak siap justru berisiko membuat proses menjadi lebih lama, memicu penolakan, serta menyebabkan stres bagi anak maupun orang tua.
Diskusi tentang waktu yang paling tepat untuk memulai pelatihan toilet dibahas dalam sebuah podcastYouTube Kesehatan berjudul "Pelatihan Toilet pada Anak, Mengapa Penting dan Kapan Waktu yang Tepat untuk Memulainya?" bersama Dokter Spesialis Anak RS UNS yang juga Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, dr. Aisya Fikritama, Sp.A.
Pada kesempatan itu, dr. Aisya mengungkapkan bahwa toilet training tidak hanya tentang mengajarkan anak berhenti menggunakan popok.
Hanya proses bertahap dalam melatih kemandirian serta kemampuan mengenali dan mengendalikan fungsi tubuhnya.
Menurut dr. Aisya, orang tua perlu memahami tanda-tanda kesiapan anak sebelum memulai toilet training.
Termasuk usia yang dianggap paling cocok serta metode mendampingi anak selama proses pembelajaran.
Pendekatan yang penuh kesabaran, konsisten, dan tidak terburu-buru menjadi kunci agar anak merasa aman, percaya diri, serta mampu menjalani pelatihan ke toilet sebagai pengalaman belajar yang baik dalam perkembangannya.
Pelatihan Membuang Popok Bukan Hanya Sekadar Menghilangkan Popok
Dr. Aisya menjelaskan bahwa pelatihan toilet adalah proses mengajarkan anak untuk dapat mengendalikan kebiasaan buang air dan melakukannya di tempat yang tepat.
Fase toilet training adalah proses di mana kita mengajarkan anak untuk dapat melakukan buang air besar atau buang air kecil secara mandiri. Toilet training membantu anak belajar mengenali saat mereka ingin BAK atau BAB serta mampu melakukannya di tempat yang tepat," ujar dr. Aisya kepada wartawan Health di Studio 5 Kantor berita Solo, Jawa Tengah, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, ketika masih bayi, anak terbiasa menggunakan popok sehingga belum paham kapan harus memberitahu orang tua saat ingin buang air.
Dengan penguasaan toilet, anak mulai mengenali tanda-tanda tubuh serta mengembangkan kebiasaan untuk menggunakan toilet secara mandiri.
"Proses penguasaan toilet ini mengajarkan anak untuk mampu menyampaikan kapan dia merasa ingin buang air kecil atau besar serta bisa melakukannya di tempat yang tepat," jelasnya.
Selain meningkatkan kemampuan fisik, proses ini juga berkontribusi pada perkembangan kemampuan komunikasi, pengelolaan diri, serta rasa percaya diri anak dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
Usia yang Tepat untuk Memulai Pelatihan BAB di Toilet
Banyak orang tua berharap anaknya segera bisa lepas dari popok.
Namun, dr. Aisya menekankan bahwa penguasaan kebiasaan buang air besar dan kecil sebaiknya dimulai ketika anak sudah mencapai usia yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
"Untuk melatih toilet training atau potty training itu idealnya mulai usia 18 bulan sampai usia 3 tahun," ujar dr. Aisya.
Ia menyampaikan bahwa rentang usia tersebut tidak berarti semua anak akan langsung berhasil.
Setiap anak mengalami pertumbuhan yang berbeda, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih cepat atau lebih lama.
Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya tidak membandingkan kemampuan anak dengan anak lain atau memaksa anak jika belum siap.
Kenali Tanda-Tanda Anak Telah Siap
Selain usia, kesiapan anak juga bisa dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari.
Menurut dr. Aisya, para orang tua sebaiknya lebih waspada terhadap kebiasaan anak saat mulai merasakan keinginan untuk buang air besar atau buang air kecil.
Salah satu gejala yang sering terjadi adalah anak tiba-tiba mencari tempat yang sunyi atau bersembunyi.
"Terkadang anak terlihat bersembunyi. Nah, segera tanyakan, 'Adik ingin buang air besar ya?' lalu kita ajak ke kamar mandi," katanya.
Respons yang cepat dapat membantu anak memahami bahwa keinginan untuk buang air harus diikuti dengan pergi ke kamar mandi, bukan lagi menggunakan popok.
Selain itu, orang tua juga bisa mulai mengingatkan anak dengan cara sederhana agar menyampaikan keinginan untuk buang air kecil atau besar.
Dibutuhkan Kesabaran Orang Tua
Menurut dr. Aisya, penguasaan kebersihan toilet adalah proses bertahap yang memerlukan komitmen dan kesabaran dari orang tua.
"Ini juga dilakukan secara bertahap, memerlukan usaha. Orang tua memang harus sabar," katanya.
Pemantauan yang terus-menerus memiliki peran penting dalam keberhasilan penguasaan toilet.
Orang tua disarankan untuk menerapkan pendekatan yang konstruktif, memberikan petunjuk dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti, serta menghindari menghukum anak saat masih melakukan kesalahan.
Pendekatan yang lembut membuat anak merasa lebih nyaman dalam belajar dan tidak takut untuk mencoba lagi jika belum berhasil.
Jangan memaksa, temani sesuai dengan perkembangannya
Pada akhirnya, keberhasilan dalam pelatihan toilet tidak diukur dari seberapa cepat anak berhenti menggunakan popok, tetapi bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan nyaman.
Dr. Aisya menekankan bahwa setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya menghargai proses tersebut dengan memberikan dukungan, memperhatikan tanda-tanda kesiapan anak, serta tetap mendampingi tanpa memberikan tekanan.
Dengan memulai pelatihan toilet pada usia yang tepat, mengenali tanda-tanda kesiapan anak, serta menggunakan pendekatan yang penuh kesabaran, anak akan lebih mudah belajar mengatur kebiasaan buang air kecil dan besar secara mandiri sambil meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian yang akan berguna sepanjang hidupnya.
(news.com/Farra)
Artikel Lain yang Berkaitan dengan Pelatihan Toilet