Ringkasan Berita:
- Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Swadaya Masyarakat Teras Kitorang Peduli Papua menyusun modul pembelajaran bahasa daerah Moi Kelim.
- Diskusi kelompok fokus (FGD) diadakan di Kabupaten Sorong guna memperkuat pelestarian bahasa daerah.
- Modul pembelajaran ini ditujukan untuk siswa Sekolah Dasar sebagai kelanjutan dari penyusunan kamus bahasa daerah sebelumnya.
- Pemerintah Kabupaten Sorong menghargai kerja sama antar sektor dalam melestarikan budaya lokal Papua.
SORONG.COM, AIMAS -Usaha pelestarian bahasa lokal di Papua Barat semakin diperkuat.
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan LSM Teras Kitorang Peduli Papua menyelenggarakan Diskusi Kelompok Fokus (FGD) penyusunan modul pembelajaran bahasa daerah Moi Kelim di Kabupaten Sorong, Kamis (6/8/2026).
Tujuan dari kegiatan ini adalah menyusun modul pembelajaran Bahasa Moi Kelim sebagai bahan ajar untuk siswa Sekolah Dasar (SD), sekaligus memupuk rasa cinta generasi muda terhadap bahasa ibu dan budaya setempat.
Ketua LSM Teras Kitorang Peduli Papua, Irianto M. Ali, menyatakan bahwa penyusunan modul merupakan bagian dari Program Pencipta Karya Kreatif Inovatif Kementerian Kebudayaan RI.
"Kami berharap, modul ini dapat dimanfaatkan di sekolah dasar agar anak-anak mulai dini mengenal, memahami, dan menyukai bahasa Moi Kelim," katanya.
Ia menjelaskan, penyusunan modul dilakukan bersama komunitas bahasa dan sastra Moi serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong agar isi materi memenuhi standar akademik dan sesuai dengan nilai budaya masyarakat.
Menurut Irianto, penyusunan modul merupakan kelanjutan dari program pelestarian bahasa dengan menggunakan Kamus Bahasa Daerah Moi Kelim dan Kamus Bahasa Daerah Moi Klabra Klaka sebagai sumber utama materi pembelajaran.
Di sisi lain, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong, Jonathan Simaela, menghargai kerja sama antara Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, kalangan akademik, komunitas, serta organisasi masyarakat dalam melestarikan bahasa daerah.
"Melestarikan bahasa daerah tidak dapat dilakukan secara individual. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, organisasi pendidikan, serta seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, FGD ini diharapkan menghasilkan modul pembelajaran Bahasa Moi Kelim yang lebih mudah dipahami oleh siswa serta menjadi alat efektif untuk melestarikan bahasa daerah dan memperkuat identitas budaya masyarakat Moi dalam situasi globalisasi.(sorong.com/taufik nuhuyanan)