Ketimpangan Status Guru PNS dan Honorer Jadi Sorotan, Rendah Diri Menyebar ke Murid -->

Ketimpangan Status Guru PNS dan Honorer Jadi Sorotan, Rendah Diri Menyebar ke Murid

21 Agu 2026, Jumat, Agustus 21, 2026
Ketimpangan Status Guru PNS dan Honorer Jadi Sorotan, Rendah Diri Menyebar ke Murid
Ringkasan Berita:
  • Retno Listyarti mengemukakan isu ketidakseimbangan status antara guru yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru honorer.
  • Perbedaan perlakuan dan posisi yang diberikan menimbulkan celah kesenjangan sosial yang secara langsung memengaruhi pola pikir para guru di sekolah.
  • Retno menganggap perbedaan status menyebabkan hubungan antar guru menjadi tidak seimbang dalam lingkungan kerja.

NEWS.COM, JAKARTA -Praktisi pendidikan serta anggota Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti mengemukakan isu ketidakseimbangan status antara guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru honorer.

Ia mengatakan, perbedaan perlakuan dan status tersebut menyebabkan terjadinya jurang pemisah sosial yang secara langsung memengaruhi pola pikir para guru di sekolah.

Retno menganggap perbedaan status menyebabkan hubungan antar guru menjadi tidak seimbang dalam lingkungan kerja.

"Para PNS merasa lebih unggul, sedangkan honorer merasa lebih rendah, yang ada adalah ketidaksetaraan, begitu," kata Retno dalam Forum Group Discussion (FGD) Masyarakat Pendidikan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).

Seorang mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa rasa tidak percaya diri yang melekat pada guru honorer turut berdampak pada suasana belajar-mengajar.

Menurutnya, kondisi psikologis guru berkorelasi langsung dengan perkembangan kepribadian siswa. Jika seorang guru kehilangan rasa percaya diri dan kemampuan berpikir kritis, maka sulit bagi siswa untuk berkembang menjadi individu yang kritis dan percaya diri.

"Dan hal ini juga terpikir oleh para guru yang merasa lebih rendah, sehingga tidak percaya diri. Bagaimana mungkin seorang guru tidak percaya diri, tetapi muridnya percaya diri? Bagaimana guru tidak kritis, sedangkan muridnya ingin kritis? Tidak mungkin begitu," tegasnya.

Selanjutnya, Retno melihat kondisi yang dialami para guru, terutama yang berstatus honorer, sebagai bentuk kemiskinan struktural yang sering kali tidak disadari.

Meskipun memiliki potensi kekuatan massa yang besar dalam memperjuangkan hak dan peningkatan kesejahteraan, ia menyesali sedikitnya tindakan solidaritas dan gerakan kolektif di kalangan guru.

"Maka, guru ini mengalami kesulitan secara struktural, tetapi dia tidak memahaminya. Selanjutnya, dia memiliki kekuatan untuk berdemo bersama dalam hal itu, tetapi tidak pernah mau. Demo sering kali sepi jika melibatkan guru. Biasanya hanya menitipkan perjuangan," kritik Retno.

TerPopuler