Kiai Said Aqil Dianggap Lebih Kompeten Jadi Rais Aam PBNU -->

Kiai Said Aqil Dianggap Lebih Kompeten Jadi Rais Aam PBNU

24 Agu 2026, Senin, Agustus 24, 2026

bengkalispos.com, JAKARTA - Nama mantan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj semakin kuat sebagai kandidatRais Aam PBNU.

Pemimpin PBNU periode dua kali ini dianggap sebagai tokoh yang memiliki pengalaman, mampu menyatukan, serta selalu hadir langsung dalam menyelesaikan permasalahan.

Saya mengikuti kebijakan Pak Said. Saya juga sering berkomunikasi dengan beliau. Menurut saya, selama dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said tergolong aman. Tidak ada kendala, " ujar Tokoh Senior NU KH. Adnan Anwar saat berbicara dalam Serial Muktamar Ke-35 NU bertema “Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU di Kafe Trisnoku, Jakarta, Senin (24/8/2026).

Dua narasumber lainnya dalam diskusi ini ialah Pakar Politik Ujang Komarudin dan Tokoh Tua NU KH Mukti Ali Qusyairi serta Nono Suwarno yang bertindak sebagai moderator.

Menurutnya, masalah yang bersifat furu' atau cabang dapat diselesaikan dengan baik. Selama kepemimpinan Kiai Said, tidak pernah terjadi keributan, karena semua permasalahan bisa terselesaikan.

Tentu, menurut Kiai Adnan, masalah masih ada, tetapi tidak sampai mengakibatkan goncangan yang menyebabkan perpecahan dalam organisasi.

"Artinya Pak Said adalah figur yang konsolidator. Sosok yang berpengalaman, kemudian beliau juga terlibat dalam isu-isu geopolitik. Hal ini sangat penting," ujarnya.

Kiai Said juga terkenal sebagai tokoh yang langsung turun tangan menyelesaikan permasalahan. Contohnya, saat terjadi perselisihan mengenai keturunan Ba'lawi, Kiai Said berusaha menjelaskan masalah tersebut, sehingga konflik tersebut mereda.

Apa pendapat Anda mengenai nama-nama lain, seperti KH Ma'ruf Amin dan KH Miftachul Akhyar yang juga dianggap sebagai kandidat Rais Aam PBNU?

Kiai Adnan menyebut Kiai Ma'ruf sebagai tokoh yang memiliki pengalaman. Sementara itu, masa kepemimpinan Kiai Mifta dihiasi oleh perselisihan dan tindakan saling mencopot dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

"Jika memecat, bahayanya adalah mengindividualisasi seseorang. Seperti NU menjadi urusan pribadi. Itu merupakan implikasi berbahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah. Itu belum pernah terjadi sebelumnya," tegasnya.

Menurut Kiai Adnan, dalam internal NU memang pernah terjadi pemecatan wakil ketua. Namun setelah itu terjadi perdamaian. Akhirnya pengurus tersebut kembali dan tercapai kesepahaman.

"Peristiwa pemecatan saling memecahkan itu jarang terjadi. Sepanjang kami di PBNU dulu, tidak pernah ada pemecatan saling memecahkan," tegas Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) tersebut.(fri/jpnn)

TerPopuler