
bengkalispos.com.CO.ID, ISTANBUL -- Surat Kabar Israel,Haaretzpada Jumat (21/8/2026) melaporkan, Turki dan Suriah berusaha menghindari perang membesar setelah Israel secara mandiri menyerang pangkalan udara di Suriah, dekat batas negara Turki.Haaretzmenurut dua pejabat Suriah yang mengklaim memiliki akses dekat dengan presiden dan kementerian luar negeri, Damaskus percaya bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sengaja menciptakan konflik yang tidak dapat diatasi oleh Suriah.
Damaskus juga percaya, melalui serangan terhadap pangkalan udara di Suriah, Netanyahu sedang berusaha menarik perhatian dalam negeri menjelang pemilu pada Oktober 2026.
Berdasarkan sumber tersebut, Suriah tetap menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat dan Prancis serta berharap dapat mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel. Kota Damaskus juga sedang mencari solusi untuk mengubah perjanjian tahun 1974 yang menetapkan zona buffer antara Israel dan Suriah setelah perang Arab-Israel pada 1973.
Israel meluncurkan serangan udara terhadap landasan pacu dan gudang penyimpanan di pangkalan Abu Al-Duhur di barat daya Suriah pada hari Selasa. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat serangan tersebut.
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa Suriah hampir melanggar kesepakatan keamanan dengan memperbolehkan pasukan Turki ditempatkan di Abu al-Duhur serta mengabaikan peringatan dari Tel Aviv. Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani kemudian menyampaikan bahwa pejabat militer Turki berkunjung ke pangkalan udara tersebut untuk latihan dan tidak ada rencana penempatan pasukan secara permanen.
Kementerian Pertahanan Turki menolak pernyataan Damaskus dan menyatakan bahwa tidak ada delegasi Turki yang mengunjungi Abu al-Duhur sebelum maupun setelah serangan udara Israel. Sumber dari Turki memberi tahu Haaretz bahwa Turki akan terus mendukung Suriah dalam hal diplomasi dan pertahanan serta berharap Washington menghentikan tindakan Israel.
Berdasarkan sumber tersebut, Ankara tidak memandang peningkatan saat ini sebagai peluang untuk meraih poin politik atau media terhadap Israel.
Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah dari Irak, Tom Barrack menyebut serangan Israel sebagai "peningkatan yang tidak perlu" dan menyatakan bahwa Turki telah menerima peringatan tersebut. Ia menuturkan, kurangnya pemberitahuan telah membuat Turki akan merespons, namun kemudian "mengendalikan diri" agar konflik tidak semakin memburuk.
Kepada Reutersmenurut Barrack, Washington saat ini sedang membangun jalur diplomatik antara Turki, Israel, dan Suriah agar menghindari pertempuran yang tidak diinginkan.
Perbandingan kekuatan
Turki saat ini memiliki kekuatan militer konvensional yang lebih besar dibandingkan dengan Israel. Perbandingan ini terlihat dari data Global Firepower (GFP) tahun 2026, yang menempatkan Turki pada peringkat kesembilan dari 145 negara, sedangkan Israel berada di posisi ke-15.
Dalam indeks GFP,semakin rendah angka Power Index, semakin kuat posisi suatu negara. Turki memiliki skor 0,1975, sementara Israel mendapat 0,2707. GFP menyatakan, indeks ini merupakan gambaran teoretis mengenai kekuatan militer konvensional dan bukan prediksi terkait hasil suatu perang.
Perbedaan yang paling jelas terlihat dari jumlah anggota militer dan struktur penduduk. Turki memiliki populasi sekitar 84,1 juta jiwa, jauh lebih besar dibandingkan Israel yang hanya sekitar 9,4 juta jiwa. Dalam hal pasukan aktif, Turki memiliki sekitar 481 ribu tentara, sedangkan Israel memiliki sekitar 169.500 personel. Namun, Israel memiliki pasukan cadangan yang lebih besar, sekitar 465 ribu orang, dibandingkan Turki yang mencapai 380 ribu.
Dengan demikian, dalam konflik yang berlangsung lama dan memerlukan penggalangan besar-besaran, Turki memiliki jumlah sumber daya manusia yang jauh lebih besar. GFP memperkirakan jumlah penduduk Turki yang dapat diwajibkan untuk wajib militer mencapai 42,98 juta orang, sedangkan Israel sekitar 3,95 juta. Jumlah penduduk yang dianggap layak untuk wajib militer juga menunjukkan perbedaan serupa, yaitu 36,09 juta di Turki dibandingkan 3,28 juta di Israel.
Keunggulan Turki dalam jumlah tidak secara otomatis menjadikannya unggul di semua bidang. Salah satu area yang menjadi kekuatan utama Israel adalah angkatan udara.
GFP melaporkan bahwa Israel memiliki 597 pesawat militer, sementara Turki memiliki 1.101 pesawat. Namun, jika dibatasi hanya pada pesawat tempur, Israel berada di depan Turki dengan 239 pesawat tempur dibandingkan 201. Israel juga memiliki 45 pesawat serang khusus, sedangkan Turki tidak memiliki jenis pesawat ini.