
Ringkasan Berita:
- Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengharapkan partisipasi masyarakat setempat saat ada investasi industri yang masuk ke suatu wilayah.
- Ia memberikan contoh kawasan transmigrasi Melolo, di mana 85 persen tenaga kerja industri dikatakan berasal dari masyarakat setempat.
- Iftitah menyoroti rantai pasok sektor industri yang masih mengandalkan bahan dari luar wilayah, termasuk penyediaan makanan untuk industri yang memiliki 60.000 karyawan di Maluku Utara.
NEWS.COM, JAKARTA— Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengajak masyarakat setempat untuk tidak hanya menjadi pengamat saat ada investasi industri yang masuk ke suatu wilayah.
Menurut Iftitah, masyarakat di sekitar kawasan industri harus terlibat sebagai tenaga kerja serta bagian dari rantai pasok agar kegiatan industri dapat melibatkan pelaku usaha lokal.
“Kita tidak menginginkan ketika industri membutuhkan lahan, lalu pemilik lahan, khususnya masyarakat yang berada di sana, terkena dampak tetapi hanya menjadi penonton. Hal ini nantinya akan menjadi masalah,” ujar Iftitah dalam acara tersebut.Dialog Eksekutif Transmigrasi: Kuliah Strategis dan Forum Kebijakandi wilayah Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026).
Ia menyatakan bahwa partisipasi masyarakat setempat sangat penting di tengah perubahan dalam rantai pasok global yang mendorong para pelaku industri untuk mencari lokasi baru dalam ekspansi mereka.
Menurut Iftitah, ketersediaan lahan merupakan salah satu aspek penting bagi sektor industri. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan hak dan posisi masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Mempelajari Wilayah Transmigrasi Melolo
Iftitah mengambil contoh daerah transmigrasi Melolo. Menurutnya, pada awal perkembangan industri, truk para investor pernah dihentikan oleh warga setempat.
Setelah masyarakat mendapatkan pelatihan, Iftitah mengatakan 85 persen tenaga kerja industri di kawasan tersebut berasal dari penduduk setempat.
"85 persen industri tersebut memperkerjakan tenaga kerja lokal," kata Iftitah.
Iftitah juga menekankan bahwa keterlibatan masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan kesempatan kerja.
Menurutnya, sektor industri perlu menciptakan rantai pasok di sekitar wilayah agar kebutuhan barang dan jasa dapat terpenuhi oleh pelaku usaha setempat.
60.000 Karyawan, Penyedia Makanan Masih Berasal dari Jawa
Iftitah selanjutnya menyoroti rantai pasok industri di Maluku Utara. Ia menyebutkan bahwa sektor pertambangan di wilayah tersebut menyerap sekitar 60.000 tenaga kerja, namun kebutuhan makanan masih diambil dari Jawa.
Menurut Iftitah, kebutuhan tersebut seharusnya dapat dipenuhi oleh masyarakat setempat sehingga aktivitas ekonomi di sekitar area tersebut ikut berkembang.
"Ada 60.000 pekerja, tetapi penyedia makanannya masih berasal dari Jawa," ujar Iftitah.
Ia selanjutnya menghubungkan partisipasi masyarakat serta pemanfaatan potensi ekonomi lokal dengan perubahan cara berpikir dalam pelaksanaan program transmigrasi.
"Bahwa transmigrasi bukan lagi menempatkan terlebih dahulu lalu melihat peluangnya, tetapi melihat peluangnya terlebih dahulu baru ditempatkan," tutupnya.