Mobil hybrid laris, tapi tak ada insentif tambahan dari pemerintah -->

Mobil hybrid laris, tapi tak ada insentif tambahan dari pemerintah

9 Agu 2026, Minggu, Agustus 09, 2026

bengkalispos.com- Pemerintah memberi indikasi bahwa mobil hybrid mungkin tidak akan mendapatkan insentif tambahan pada tahun 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menganggap pasar mobil hybrid telah berkembang positif dan teknologi ini bisa menjadi solusi di tengah perkembangan infrastruktur kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang masih dalam proses pertumbuhan.

Pemerintah belum memiliki rencana untuk menambahkan insentif bagi mobil hybrid pada tahun 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pasar mobil hybrid saat ini telah berkembang secara positif.

Airlangga menganggap teknologi hybrid masih menjadi pilihan yang layak bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan kendaraan elektrifikasi, terutama karena jaringan pengisian daya untuk mobil listrik berbasis baterai atau BEV (Battery Electric Vehicle) belum sepenuhnya merata.

"Penjualan hybrid meningkat karena dengan infrastruktur yang terbatas, teknologi ini menjadi solusi bagi masyarakat sebelum beralih ke BEV," kata Airlangga saat diwawancarai di GIIAS 2026, (7/8).

Penjualan mobil hybrid meningkat sebesar 47 persen

Perkembangan pasar menjadi salah satu faktor yang membuat pemerintah belum merasa perlu menambah insentif untuk mobil hybrid.

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil hybrid secara grosir selama bulan Januari hingga Juni 2026 mencapai 42.367 unit.

Angka tersebut naik sebesar 47 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Segmen kendaraan listrik hibrida (PHEV) mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Penjualannya sebanyak 5.003 unit, meningkat 187,4 persen dibanding tahun lalu.

Insentif Hibrida Dianggap Sudah Memadai

Airlangga menyatakan bahwa dukungan pemerintah terhadap kendaraan hybrid sebelumnya diberikan guna mendorong pengembangan kendaraan berbasis elektrifikasi di dalam negeri.

Saat ini, beberapa mobil hybrid telah diproduksi secara lokal. Oleh karena itu, pemerintah menganggap insentif yang ada sudah berjalan sesuai dengan tujuannya.

"Karena sudah berjalan, insentifnya sudah penuh. Insentif tersebut diberikan untuk produksi nasional, dan ini produksinya sudah bersifat nasional," ujar Airlangga.

Berdasarkan situasi tersebut, insentif tambahan khusus untuk pembelian kendaraan hybrid belum menjadi fokus utama pemerintah.

Mobil Listrik Justru Diberi Insentif Baru

Berbeda dengan mobil hybrid, pemerintah sedang menyiapkan bantuan terbaru bagi kendaraan listrik yang menggunakan baterai.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan bahwa ia belum mengetahui adanya pembahasan mengenai insentif baru untuk kendaraan hybrid, termasuk HEV, PHEV, serta REEV.

Menurutnya, fokus pemerintah saat ini lebih condong pada kendaraan listrik yang menggunakan baterai atau BEV.

Pemerintah juga telah menyiapkan program insentif yang ditujukan hingga 500.000 mobil listrik dan 500.000 sepeda motor listrik. Bila tercapai, jumlah kendaraan yang menerima dukungan akan mencapai 1 juta unit.

Salah satu mekanisme yang disiapkan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang Dibebankan kepada Pemerintah (PPN DTP).

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai.

Di sisi lain, mobil hybrid masih memiliki peluang yang besar di pasar Indonesia karena menyediakan teknologi elektrifikasi tanpa harus sepenuhnya tergantung pada jaringan pengisian baterai.

Berkembangnya penjualan, mobil hybrid kini menjadi salah satu alternatif yang dipilih masyarakat selama masa peralihan dari kendaraan berbahan bakar konvensional menuju kendaraan listrik.

TerPopuler