
Ringkasan Berita:
- Laporan mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menggunakan hampir seluruh stok rudal jarak jauh ATACMS dan PrSM selama perang berlangsung selama lima bulan melawan Iran.
- Tidak hanya rudal serangan yang berkurang, sekitar 65 persen rudal pertahanan Patriot, persediaan THAAD, serta rudal jelajah Tomahawk juga telah digunakan sejak perang dimulai.
- Meski ada kekhawatiran terkait persediaan amunisi, Presiden Donald Trump dan Departemen Pertahanan AS memastikan bahwa negara tersebut masih memiliki stok senjata yang cukup.
NEWS.COM - Persediaan roket jarak jauh Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami penurunan yang signifikan setelah digunakan secara intensif selama perang melawan Iran yang berlangsung sekitar lima bulan.
Data tersebut diungkapkan oleh beberapa sumber yang mengetahui informasi rahasia militer Amerika Serikat.
Mereka mengatakan Washington telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan rudal permukaan-ke-permukaan andalan Angkatan Darat, sehingga menimbulkan kekhawatiran baru terkait kesiapan militer Amerika Serikat dalam menghadapi konflik besar berikutnya, khususnya menghadapi ancaman dari Rusia dan Tiongkok.
Laporan ini juga menunjukkan beratnya beban perang yang terjadi saat ini. Meskipun memiliki anggaran pertahanan terbesar di dunia, penggunaan amunisi presisi dalam jumlah besar tetap mampu menghabiskan persediaan senjata strategis Amerika Serikat.
Mengutip dari Reuters, tiga sumber yang mengetahui data persediaan senjata Amerika Serikat mengungkapkan bahwa stok dua rudal utama Angkatan Darat, yaitu Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM), kini telah berkurang hingga mendekati tingkat terendah.
Namun, para narasumber menolak memberikan angka pasti jumlah rudal yang masih dimiliki Amerika Serikat karena data tersebut termasuk dalam kategori rahasia keamanan nasional.
ATACMS dan PrSM Menjadi Senjata yang Paling Sering Digunakan
ATACMS adalah rudal taktis permukaan ke permukaan yang mampu menyerang target dari jarak ratusan kilometer dengan akurasi yang sangat tinggi.
Rudal tersebut selama ini menjadi salah satu senjata utama Amerika dalam berbagai operasi militer, termasuk yang diberikan kepada Ukraina untuk menyerang sasaran militer di wilayah Rusia.
Sementara itu, PrSM adalah rudal terbaru yang disiapkan sebagai pengganti ATACMS.
Tidak seperti senjata lainnya, PrSM dilengkapi dengan teknologi yang lebih canggih, jangkauan yang lebih luas, serta dirancang sebagai inti kemampuan serangan jarak jauh Angkatan Darat Amerika Serikat di masa depan.
Para ahli pertahanan menyatakan bahwa rudal jarak jauh yang akurat merupakan salah satu komponen paling penting dalam konflik militer saat ini.
Kemampuan menyerang sasaran dari jarak yang aman memungkinkan militer menghancurkan pusat komando, gudang logistik, hingga fasilitas penting lawan tanpa perlu menerbangkan pesawat tempur masuk ke wilayah yang memiliki pertahanan udara yang kuat.
Selain memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, setiap rudal tersebut ditawarkan dengan harga lebih dari satu juta dolar AS atau sekitar Rp16 miliar per unit.
Oleh karena itu, penggunaan dalam jumlah besar selama konflik langsung memengaruhi penurunan persediaan senjata Amerika.
Menurut sumber ReutersOperasi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran yang dimulai pada awal Februari sebelumnya diharapkan berlangsung hanya dalam waktu singkat.
Namun, konflik yang berlarut-larut memaksa Pentagon untuk menggunakakan rudal presisi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat pemerintah bahwa berkurangnya persediaan rudal bisa melemahkan kemampuan Amerika Serikat dalam menghadapi krisis lain, terutama jika terjadi ketegangan dengan Rusia atau Tiongkok.
Seorang sumber mengungkapkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) hampir kehabisan persediaan rudal darat yang dimilikinya sebelum konflik berakhir.
Agar operasi militer tetap berjalan, Pentagon dilaporkan perlu mengalihkan persediaan rudal dari wilayah komando militer AS lainnya.
Persediaan Patriot, THAAD hingga Tomahawk Mulai Menurun
Kekhawatiran tersebut tidak hanya terkait dengan rudal serangan jarak jauh. Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa sekitar 65 persen rudal pencegah Patriot telah digunakan sejak perang dimulai.
Selain itu, persediaan rudal pelindung THAAD diperkirakan mengalami penurunan sebesar 38 persen atau lebih dibandingkan kondisi sebelum konflik terjadi. Dua sumber dari Reuters menyebutkan angka ini sesuai dengan data yang ada di dalam pemerintah Amerika Serikat.
Satu sumber juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah memanfaatkan hampir separuh dari seluruh persediaan rudal jelajah Tomahawk yang dimilikinya di seluruh dunia sejak perang berlangsung.
Tomahawk adalah rudal jelajah yang ditembakkan dari kapal perang atau kapal selam. Selama beberapa dekade, senjata ini menjadi salah satu senjata andalan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam menghancurkan target berharga tanpa mengorbankan keselamatan pilot.
Pengurangan berbagai jenis rudal strategis tersebut menjadikan perang Iran sebagai ujian besar bagi kemampuan industri pertahanan Amerika Serikat dalam memastikan pasokan amunisi untuk konflik yang berlangsung lama, sekaligus menjaga kesiapan menghadapi ancaman dari negara-negara pesaing seperti Rusia dan Tiongkok.
Pentagon Memastikan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Tetap Siap Bertempur
Di tengah munculnya kekhawatiran tersebut, pihak Gedung Putih menyangkal anggapan bahwa Amerika Serikat sedang mengalami krisis senjata.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negaranya masih memiliki persediaan senjata yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara mana pun di dunia.
Ia juga menyebutkan bahwa industri pertahanan Amerika saat ini sedang memproduksi amunisi dengan tingkat tertinggi dalam sejarah, diikuti oleh perluasan pabrik dan peningkatan kemampuan produksi.
Sejalan dengan Trump, Juru Bicara Utama Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa militer Amerika tetap dalam kondisi siap tempur.
Menurutnya, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat masih memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan setiap operasi yang diperintahkan oleh presiden.
Ia menegaskan bahwa berbagai operasi militer di beberapa wilayah dunia tetap berjalan dengan baik tanpa mengurangi kesiapan Amerika Serikat dalam menjaga kepentingan nasional serta negara-negara aliansinya.
(news.com / Namira)