Prabowo Sebut Tuduhan Iran Miliki Senjata Nuklir, Pakar: Tidak Bijak dan Salah -->

Prabowo Sebut Tuduhan Iran Miliki Senjata Nuklir, Pakar: Tidak Bijak dan Salah

4 Agu 2026, Selasa, Agustus 04, 2026
Prabowo Sebut Tuduhan Iran Miliki Senjata Nuklir, Pakar: Tidak Bijak dan Salah
Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa klaim bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir.
  • Ahli mengungkapkan bahwa hingga kini Iran belum memiliki senjata nuklir.
  • Menurut analis, pernyataan yang disampaikan Prabowo dianggap terburu-buru dan tidak tepat.
 

NEWS.COM - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan terkait tuduhan bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir, serta minat negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk memiliki senjata serupa.

Hal ini diungkapkan Prabowo dalam pertemuan dengan jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat, (31/7/2026).

"Diungkapkan bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir. Kini Arab Saudi juga menginginkan senjata nuklir," ujar Prabowo sambil mengangkat tangan kirinya.

Jika Arab Saudi menginginkan senjata nuklir, kemungkinan besar Uni Emirat Arab juga akan menginginkannya. Qatar juga berkeinginan memiliki senjata nuklir. Mesir juga ingin memiliki senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran hingga saat ini menyatakan bahwa tidak memiliki senjata nuklir. Meskipun begitu, negara tersebut memiliki proyek nuklir yang bertujuan untuk pembangkit listrik, industri, penelitian kesehatan, atau keperluan damai lainnya.

"Republik Islam Iran tidak pernah berusaha memiliki senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran di Indonesia melalui akun X, pada hari Minggu, (2/8/2026).

Ahli: Itu pernyataan yang terburu-buru

Muhammad Zulfikar Rakhmat, Direktur Cina-Indonesia dan Indonesia-MENA di Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios), mengkritik pernyataan Prabowo terkait dugaan Iran memiliki senjata nuklir.

Menurut Zulfikar, Iran hingga kini belum memiliki senjata nuklir. Ia menganggap pernyataan Prabowo menyampaikan klaim tersebut tanpa terlebih dahulu memverifikasi kebenarannya.

"Pernyataan mengenai Iran itu tidak benar," kata Zulfikar dalam pernyataannya ketika dihubungi.newsdari Kantor Berita di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, (4/8/2026).

Iran merupakan bagian dari perjanjian yang melarang negara-negara mengembangkan senjata nuklir, serta hanya memperbolehkannya untuk keperluan damai, seperti pembangkit listrik dan penelitian kesehatan.

Menurut Zulfikar, sebagaimana yang ia tulis dalam kolom opini diMiddle East Monitor, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyatakan bahwa tidak ada indikasi bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Selain itu, beberapa puluh tahun yang lalu, pemimpin Iran telah mengeluarkan fatwa bahwa senjata nuklir dianggap haram. Fatwa tersebut masih berlaku sampai saat ini.

Zulfikar menyatakan bahwa pernyataan yang disampaikan Prabowo tidak didasarkan pada data intelijen Indonesia atau analisis yang objektif, melainkan berasal dari klaim lama yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, dua negara yang menjadi lawan utama Iran.

Ia juga menyesali Prabowo karena menyebut Arab Saudi, UEA, dan Qatar juga menginginkan senjata nuklir. Ketiga negara tersebut merupakan mitra penting Indonesia di kawasan Timur Tengah dan saat ini sedang memperbaiki hubungan dengan Iran.

"Arab Saudi dan Iran memperbaiki hubungan diplomatik pada tahun 2023, sementara sebagian besar negara Teluk cenderung tidak mendukung pendapat bahwa Iran akan mengembangkan senjata nuklir," kata Zulfikar.

Ia mengatakan bahwa Indonesia telah lama membangun reputasi atau citra sebagai negara yang menunjukkan simpati terhadap isu di Timur Tengah, termasuk dengan tegas mendukung Gaza dan mengkritik Israel.

"Klaim yang tidak hati-hati dan tidak benar mengenai program nuklir Iran merusak reputasinya," katanya.

Lulusan dari Universitas Qatar dan Universitas Manchester menganggap pernyataan Prabowo yang salah menunjukkan bahwa dia tidak memahami secara mendalam geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ia menyatakan kesalahan tersebut tidak akan terjadi jika Prabowo mempelajari laporan publik dari IAEA mengenai program nuklir Iran.

(news/Febri)

TerPopuler