Prabowo Usulkan MBG Raih Nobel 2026? Mendikristek Buka Fakta Ini -->

Prabowo Usulkan MBG Raih Nobel 2026? Mendikristek Buka Fakta Ini

7 Agu 2026, Jumat, Agustus 07, 2026

bengkalispos.com- JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sedang melakukan pemeriksaan terhadap sebuah karya ilmiah yang diklaim memiliki ketebalan 69 halaman, yang tersedia di platform SSRN, yang mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2026 dengan menyebut nama Presiden.Prabowo Subianto.

Dokumen tersebut menyebar luas karena diduga dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan memakai nama beberapa tokoh tanpa izin.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mulai hari Selasa, 4 Agustus 2026, telah membentuk sebuah tim untuk melakukan pencarian dan penyelidikan yang mendalam.

Sejak dibentuk, tim telah bekerja sama dengan berbagai pihak, mengumpulkan data dan dokumen, serta meminta penjelasan dari pihak-pihak yang terkait.

Sampai saat ini, proses penyelidikan masih berlangsung. Meskipun demikian, ada beberapa hasil awal yang bisa diumumkan kepada masyarakat," ujar Menteri Pendidikan dan Sains Brian Yuliarto dalam pernyataan resminya di Jakarta, Kamis (6/8).

Berdasarkan koordinasi dengan berbagai pihak yang tercantum dalam paper tersebutMBGatau Makan Bergizi Gratis tersebut, diperoleh keterangan bahwa mereka tidak mengetahui, tidak pernah diminta persetujuannya, dan tidak terlibat dalam proses penyusunan maupun pengunggahan makalah tersebut.

Hal ini diperkuat oleh informasi dari universitas tempat penulis utama berasal, bahwa penulis utama dengan inisial DD telah menyampaikan pernyataan dan meminta maaf terkait kejadian tersebut.

Tim juga telah memeriksa status penulis utama tersebut.

Berdasarkan hasil pencarian sementara, DD belum memiliki gelar akademik sebagai guru besar dan tidak terkait sebagai dosen di universitas.

Berdasarkan data yang didapat oleh tim, pihak terkait baru saja mengikuti sidang promosi doktoral beberapa waktu lalu.

"Pada kesempatan ini, kami merasa perlu memberikan penjelasan mengenai platform SSRN agar tidak terjadi salah paham di kalangan masyarakat," ujar Menteri Brian.

Ia menekankan bahwa SSRN bukanlah organisasi yang memiliki kewenangan dalam proses Nobel, melainkan sebuah repositori atau situs publikasi pra-penerbitan di mana para peneliti mengunggah naskah ilmiah mereka.

Oleh karena itu, kehadiran sebuah makalah di SSRN tidak berarti isi atau pernyataan yang tercantum di dalamnya telah diverifikasi atau diakui oleh Komite Nobel.

Selain itu, penulisan nama seseorang dalam sebuah artikel di SSRN tidak secara langsung berarti bahwa orang tersebut mengetahui atau memberikan persetujuan sebagai penulis.

Data mengenai penulis dimasukkan oleh pihak yang mengirimkan naskah.

Jika terdapat nama yang tercantum tanpa izin, hal ini merupakan masalah etika dalam publikasi ilmiah yang harus dijelaskan dan ditangani sesuai aturan yang berlaku.

Demikian pula, penggunaan istilah penunjukan atau penunjukan dalam judul sebuah artikel tidak dapat dianggap sebagai adanya penunjukan resmi Nobel.

Mekanisme penunjukan pemenang Nobel dilakukan oleh lembaga yang berkompeten, sementara identitas para calon dan usulan yang diajukan tetap dirahasiakan oleh Komite Nobel selama 50 tahun.

"Maka dari itu, kehadiran artikel di SSRN tidak bisa dianggap sebagai bukti bahwa seseorang telah menerima penunjukan resmi Nobel," kata Mendiktisaintek.

Departemen Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Tim akan bekerja dengan cara yang objektif, profesional, dan berdasarkan bukti untuk memastikan semua informasi terungkap secara menyeluruh.

Jika terjadi pelanggaran etika akademik atau aturan lain yang berlaku, Kementerian akan mengambil tindakan sesuai dengan wewenang dan peraturan yang berlaku.

Laporan hasil penyelidikan akan diumumkan kepada masyarakat setelah seluruh tahap pemeriksaan dan penjelasan selesai dilakukan.(esy/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:

TerPopuler