
Ringkasan Berita:
- Kepala negara Iran menyangkal isu pengunduran diri, menegaskan bahwa ia tetap menjabat dan menyebut kabar tersebut disebarkan secara sengaja untuk mengganggu pemerintahan.
- Berita beredar setelah Mohammad Bagher Kharrazi menyatakan bahwa Pezeshkian telah 28 kali mengancam untuk mundur dan menerima peringatan dari Mojtaba Khamenei.
- Para pengamat menganggap isu ini menunjukkan adanya perpecahan di kalangan elit Iran, khususnya terkait hubungan dengan Amerika Serikat, negosiasi di Selat Hormuz, serta meningkatnya pengaruh Pasukan Garda Revolusioner Iran.
NEWS.COM –Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara tegas menyangkal berita yang menyebutkan bahwa dirinya akan mundur dari jabatannya di tengah meningkatnya dinamika politik internal di Republik Islam Iran.
Isu ini muncul setelah Pezeshkian dilaporkan pernah mengajukan atau mengancam mundur sebanyak 28 kali selama menjabat sebagai presiden.
Namun, dalam pidato berjudul "Laporan kepada Rakyat", Pezeshkian membantah semua isu tersebut, menegaskan bahwa ia tidak berniat meninggalkan jabatan presiden.
"Saya tidak akan mundur, saya akan tetap bertahan. Jika saya berniat untuk mengundurkan diri, saya akan mengumumkannya secara resmi," tegas Pezeshkian, dilansir dariIran Wire.
Kepala negara Iran juga memastikan pemerintahannya tetap berkoordinasi dengan institusi militer serta seluruh lembaga pemerintah. Menurutnya, isu mengenai pengunduran dirinya sengaja disebarkan untuk mengganggu kesatuan pemerintahan.
"Mereka berusaha memicu perpecahan. Pemimpin Tertinggi menyampaikan sesuatu, namun mereka menyatakan hal yang berbeda," katanya.
Meski telah menyangkal, isu tentang kemungkinan Pezeshkian mengundurkan diri sebenarnya sudah beredar selama beberapa bulan terakhir.
Pada akhir bulan Mei, beberapa sumber mengatakan bahwa Pezeshkian pernah mengajukan surat pengunduran diri karena merasa tidak dilibatkan dalam beberapa pengambilan keputusan strategis negara.
Laporan The New York TimesPada awal Juli juga menyebutkan bahwa Pezeshkian pernah mengancam akan mengundurkan diri jika kesepakatan yang diajukannya tidak mendapatkan persetujuan dari pimpinan tertinggi Iran.
Namun, semua laporan tersebut selalu ditolak oleh pihak kepresidenan. Wakil Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabaei, menegaskan bahwa isu pengunduran diri Pezeshkian tidak memiliki dasar yang jelas.
Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Wakil Presiden Eksekutif Mohammad Jafar Qaem-Panah, yang menyebut informasi tersebut hanya berupa isu politik.
Pernyataan Peringatan dari Mojtaba Khamenei
Tanggapan Pezeshkian muncul beberapa saat setelah Mohammad Bagher Kharrazi menyampaikan pernyataan tentang adanya peringatan dari Mojtaba Khamenei.
Kharrazi, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Khamenei, menyebutkan bahwa Pezeshkian sering kali memanfaatkan ancaman pengunduran diri sebagai alat tekanan politik dalam situasi perbedaan pendapat di pemerintahan.
Berdasarkan pernyataan Kharrazi, Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa jika Pezeshkian kembali mengajukan pengunduran diri, permohonannya akan segera disetujui.
"Jika dia mundur lagi, saya akan menyetujuinya. Saya akan menulis 'disetujui' di bawah surat tersebut, dan semuanya selesai," ujar Kharrazi, merujuk pada pernyataan yang ia klaim berasal dari Mojtaba Khamenei, sebagaimana dilaporkan oleh Iran International.
Kharrazi juga menyatakan bahwa sejak adanya peringatan tersebut, Pezeshkian tidak lagi berani membahas isu pengunduran diri.
Sampai saat ini, belum ada pengumuman resmi dari kantor Mojtaba Khamenei maupun pihak otoritas Iran mengenai pernyataan tersebut.
Perbedaan Pendapat dalam Lingkungan Pemerintahan
Munculnya isu pengunduran diri Presiden Iran dianggap menunjukkan adanya perbedaan pendapat dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.
Perbedaan tersebut terutama berhubungan dengan pendekatan dalam menghadapi Amerika Serikat, proses negosiasi diplomatik, serta kebijakan terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur krusial distribusi energi global.
Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa perjanjian mengenai Selat Hormuz telah mendapatkan dukungan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC). Ia juga menilai bahwa Iran perlu mendorong Amerika Serikat agar menghormati kesepakatan yang telah tercapai.
Di sisi lain, sejumlah tokoh ekstrem di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menginginkan pendekatan yang lebih tegas terhadap Washington.
Pada kesempatan yang sama, Kharrazi juga menyatakan akan terjadi perubahan dalam susunan elit keamanan Iran. Menurutnya, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Mohammad-Bagher Zolghadr akan digantikan oleh tokoh senior IRGC Mohsen Rezaei.
Ia juga menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah diberi peringatan untuk tidak lagi terlibat dalam proses negosiasi tertentu.
Meskipun belum diumumkan secara resmi, pernyataan ini memicu dugaan bahwa kelompok ekstremis mulai meningkatkan pengaruhnya dalam proses pengambilan keputusan strategis di Iran.
Pengamat: Dampak IRGC Semakin Menjadi Jelas Pengamat: Kekuatan IRGC Meningkat Pesat Pengamat: Pengaruh Kelompok IRGC Makin Kuat Pengamat: Kekuasaan IRGC Semakin Tumbuh Pengamat: Dampak dari IRGC Semakin Mengkhawatirkan Pengamat: Kekuatan IRGC Terus Bertambah Pengamat: Pengaruh IRGC Mencapai Titik Puncak Pengamat: Kekuasaan IRGC Semakin Mengancam Pengamat: Dampak IRGC Semakin Terlihat Jelas Pengamat: Kekuatan IRGC Meningkat Secara Signifikan
Ahli keamanan dan terorisme, Roger Macmillan, menganggap perkembangan ini menunjukkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan di Iran.
Menurutnya, ancaman pengunduran diri selama ini merupakan salah satu alat politik yang digunakan Pezeshkian untuk menghadapi tekanan dari kelompok ekstrem.
Namun, jika benar adanya peringatan bahwa pengunduran dirinya akan segera diterima, posisi tawar politik presiden dianggap semakin melemah.
Macmillan juga memperhatikan adanya tanda-tanda peningkatan peran IRGC dalam menentukan arah kebijakan nasional, termasuk dalam masalah keamanan dan hubungan dengan Amerika Serikat.
Jika tren ini terus berlangsung, kelompok militer diperkirakan akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding pemerintahan sipil dalam menentukan kebijakan strategis Republik Islam Iran.
Meski berbagai isu terus muncul, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya akan tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pemerintah dan meminta warga untuk tidak percaya pada kabar mengenai pengunduran dirinya.
(news.com / Namira)