Ratusan Pelajar Semarang Jadi Duta Anti-Bullying Berkat Literasi AI -->

Ratusan Pelajar Semarang Jadi Duta Anti-Bullying Berkat Literasi AI

27 Agu 2026, Kamis, Agustus 27, 2026

jateng.bengkalispos.com, SEMARANG - Ratusan pelajardi Kota Semarang, Jawa Tengah, memiliki pemahaman tentang penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan bijak.

Di EDUMIND Kesejahteraan & Kampus AI dengan temaMenciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Sehat dengan Inovasi AI: Aman Berbagi Cerita, Kesehatan Mental yang Baik,siswa diberi peringatan tentang berbagai risiko penggunaan teknologi tersebut.

Lebih lanjut mulai dari penyebaran informasi yang tidak benar, pelanggaran terhadap privasi, hingga ketergantungan pada teknologi.

Ketua Yayasan Maleo Talenta Cendekia Mutiara Hikma M menyampaikan bahwa masalah kesejahteraan siswa tidak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan sekolah.

Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat untuk mencapai prestasi akademis, tetapi juga menjadi lingkungan di mana siswa berkembang, berinteraksi, membentuk kepribadian, serta mengasah kemampuan diri.

“Kami berharap menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya fokus pada prestasi akademis, tetapi juga memastikan anak-anak merasa aman, dihargai, didengar, serta menerima bantuan saat menghadapi tantangan,” ujar Mutiara, Kamis (27/8).

Program ini tidak hanya menyentuh topik literasi digital. Peserta juga memperoleh materi terkait kesehatan mental remaja, pencegahan tindakan perundungan (bullying), serta penguatan peran siswa sebagai utusan anti-bullying.

Ia menjelaskan bahwa EDUMIND Wellbeing & AI Camp hadir sebagai tempat yang nyaman bagi siswa dalam belajar memahami diri sendiri, memupuk empati, serta mengasah keterampilan sosial yang positif.

"Pencegahan tindakan perundungan tidak bisa dilakukan secara sebagian, tetapi memerlukan partisipasi aktif siswa, guru, orang tua, serta seluruh lingkungan sekolah," ujarnya.

Kepala Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Yuli Haryanto, menyoroti peran penting penguatan kemampuan sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi serta berbagai tantangan sosial yang dihadapi siswa.

Menurut Yuli, perubahan pendidikan yang berbasis teknologi harus dilakukan bersamaan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Penggunaan AI tidak boleh membuat sekolah lupa akan kebutuhan emosional, sosial, dan psikologis siswa.

"Teknologi merupakan alat. Yang paling penting adalah bagaimana alat tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran dan memberikan manfaat kepada siswa. AI perlu digunakan dengan bijaksana, bertanggung jawab, serta tetap berfokus pada kebutuhan manusia," ujar Yuli.

Kepala Ekonomi Hukum dan Pengembangan Tata Kelola Telkom Indonesia Unit Pusat Tanggung Jawab Sosial, Aline Zivana mengatakan kerja sama antara dunia pendidikan dan teknologi agar transformasi digital tidak hanya menciptakan keterampilan teknologi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan siswa.

"Penggunaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu dianggap sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat nyata dalam pendidikan. Teknologi harus mendukung sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, sehat, dan mendorong pertumbuhan siswa," katanya.

Di sisi lain, General Manager Witel Semarang Jateng Utara Taufik menyoroti kesiapan generasi muda menghadapi era digital melalui kemampuan literasi teknologi yang baik dan berlandaskan etika.

Program ini diikuti oleh 250 peserta yang terdiri dari siswa dan guru dari berbagai sekolah menengah atas serta kejuruan di Kota Semarang, Jawa Tengah, berlangsung pada 26-28 Agustus 2026.

Beberapa sekolah yang terlibat antara lain SMAN 1 Semarang, SMAN 2 Semarang, SMAN 3 Semarang, SMAN 4 Semarang, SMAN 5 Semarang, SMAN 6 Semarang, SMAN 7 Semarang, SMAN 9 Semarang, SMKN Jawa Tengah, SMKN 7 Semarang, serta SMKN 8 Semarang.(ink/jpnn)

TerPopuler