Suriah Putus Kontak dengan Israel Pasca Serangan Abu al-Duhur -->

Suriah Putus Kontak dengan Israel Pasca Serangan Abu al-Duhur

24 Agu 2026, Senin, Agustus 24, 2026
Suriah Putus Kontak dengan Israel Pasca Serangan Abu al-Duhur
Ringkasan Berita:
  • Hubungan Suriah-Israel terhenti setelah serangan Israel terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Idlib pada 18 Agustus.
  • Damaskus tetap membuka jalur diplomasi dan berharap negosiasi mengenai kesepakatan keamanan segera dilanjutkan.
  • AS dikatakan memicu dialog, sementara Suriah meminta berhentinya serangan dan penarikan pasukan Israel dari wilayahnya.
 

NEWS.COM- Suriah menghentikan komunikasi langsung dengan Israel pasca-serangan udara terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di wilayah Idlib.

Namun, Damaskus mengharapkan negosiasi mengenai kesepakatan keamanan dengan Tel Aviv dapat dilanjutkan dalam waktu dekat.

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menyatakan bahwa Damaskus berharap diskusi tersebut dapat terus berlangsung dan pada akhirnya memicu pengunduran pasukan Israel dari wilayah Suriah.

"Kami memprediksi bahwa pembicaraan dengan Israel mengenai perjanjian keamanan akan segera dilanjutkan," kata Shaibani dalam wawancara dengan media Barat yang dilaporkan oleh stasiun televisi Syria Alikhbaria pada hari Minggu (23/8/2026).

Ia mengajak Israel memanfaatkan apa yang disebutnya sebagai "kesempatan bersejarah" dan menegaskan bahwa jalur diplomasi masih tersedia.

Menurut Shaibani, fokus utama Suriah saat ini adalah menghentikan serangan Israel serta mengambil tindakan untuk memulihkan kepercayaan antara kedua negara.

Ia menyebutkan bahwa jalur negosiasi sebelumnya sempat terhenti akibat perang Iran-Israel.

Kontak langsung kemudian sepenuhnya dihentikan setelah Israel melakukan serangan udara terhadap Bandara Udara Abu al-Duhur pada 18 Agustus.

"Pada saat ini kami tidak percaya pada Israel," kata Shaibani.

Menurutnya, Israel terus melakukan serangan terhadap fasilitas tersebut meskipun Damaskus telah memberi tahu bahwa basis tersebut tidak akan digunakan sebagai pangkalan militer Turki.

Namun, Shaibani menegaskan bahwa Suriah akan tetap mempercayai dukungan Turki dalam hal pelatihan dan kerja sama militer.

"Kami tidak akan menghentikan dukungan ini," katanya.

Shaibani menyatakan bahwa komunikasi dengan Israel tetap penting karena Israel dianggap oleh Damaskus sebagai pihak yang terus-menerus mengancam keamanan Suriah.

Namun, ia menekankan bahwa hubungan diplomatik tidak boleh terjadi tanpa menghasilkan kemajuan yang nyata.

Rancangan Kesepakatan Keamanan

Shaibani menyampaikan bahwa Suriah dan Israel sebelumnya telah mencapai kesepahaman terkait sebagian besar ketentuan dalam rancangan perjanjian keamanan.

"Sebagian besar sudah disetujui secara tertulis," katanya.

Rancangan ini, menurut Shaibani, akan memaksa Israel untuk tidak menyerang Suriah atau terlibat dalam urusan internal negara tersebut, menghentikan operasi militer, serta mundur dari wilayah yang direbut setelah pemerintahan Bashar al-Assad runtuh.

Perjanjian tersebut juga akan menetapkan pembentukan beberapa zona keamanan di sekitar perbatasan, termasuk zona penyangga yang hanya akan dihuni oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta area lain dengan tingkat kehadiran pasukan Suriah yang berbeda.

Namun, Shaibani mengklaim Israel tidak menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan perjanjian tersebut.

"Kami tidak melihat mereka memiliki semangat atau keinginan yang tulus untuk mencapai kesepahaman," katanya.

Mengenai dataran tinggi Golan yang dikuasai Israel, Shaibani menyatakan bahwa prioritas ibu kota Damaskus saat ini adalah menghentikan serangan Israel terlebih dahulu. Pembicaraan mengenai status Golan dan potensi perdamaian, menurutnya, bisa dilakukan setelah itu.

AS Dorong Perundingan

Shaibani menyatakan bahwa Amerika Serikat terus memberikan tekanan kepada Israel untuk kembali berunding dan mencapai kesepakatan dengan Suriah.

Damaskus, menurut keterangan, masih berupaya menciptakan hubungan yang tetap stabil dengan negara-negara sekitarnya di wilayah tersebut.

Pada tanggal 26 Juli, Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menyatakan bahwa pemerintahnya sedang berkolaborasi dengan beberapa negara guna mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel.

Ia mengatakan keberhasilan kesepakatan tersebut dapat membuka jalan menuju "perdamaian menyeluruh", tanpa mengorbankan klaim Suriah terhadap Dataran Tinggi Golan.

Israel telah menguasai sebagian besar Dataran Tinggi Golan sejak tahun 1967.

Setelah pemerintahan Assad berakhir pada akhir tahun 2024, Israel mengumumkan bahwa perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 tidak lagi berlaku.

Israel kemudian memperoleh kendali atas zona penyangga Suriah serta beberapa posisi lainnya, termasuk wilayah Suriah di Gunung Hermon atau Jabal al-Sheikh.

(*)

TerPopuler