Trump Ingin Ambil Alih Selat Hormuz, Iran Berani Bersaing: "Kami Tidak Takut, Jalur Ini Milik Kami" -->

Trump Ingin Ambil Alih Selat Hormuz, Iran Berani Bersaing: "Kami Tidak Takut, Jalur Ini Milik Kami"

15 Agu 2026, Sabtu, Agustus 15, 2026
Trump Ingin Ambil Alih Selat Hormuz, Iran Berani Bersaing: "Kami Tidak Takut, Jalur Ini Milik Kami"
Ringkasan Berita:
  • Trump mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat, tetapi Iran segera menolak dan menegaskan bahwa mereka tidak takut terhadap tekanan dari Washington.
  • Lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan, hanya dua kapal melewati wilayah tersebut pada Jumat, dibandingkan lebih dari 130 kapal setiap hari sebelum konflik.
  • Jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih mengalami kebuntuan, sehingga memengaruhi harga minyak. Harga minyak Brent naik sebesar 0,7 persen menjadi 87,68 dolar AS per barel karena khawatir akan adanya blokade yang berlangsung lama.

NEWS.COM -Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah milik Amerika Serikat.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatinya di New York pada Jumat (14/8/2026).

Ia menyatakan Amerika Serikat kemungkinan segera mengumumkan jalur strategis tersebut sebagai wilayah milik Amerika Serikat.

"Sebentar lagi saya akan mengumumkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, dilaporkan oleh Iranintl.

Pernyataan tersebut diungkapkan saat kegiatan pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti karena konflik dan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Ancaman Trump langsung mendapat tanggapan tajam dari Iran. Teheran menegaskan tidak takut terhadap tekanan maupun penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat dan tetap mempertahankan klaimnya terhadap kendali di Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa keputusan terkait pembukaan atau penutupan jalur strategis tersebut tetap berada di tangan Iran.

Menurut Gharibabadi, perairan Hormuz tidak bisa dikuasai hanya melalui pernyataan politik atau keputusan yang diambil sendiri.

Ia juga menegaskan bahwa Iran akan tetap mempertahankan kendalinya terhadap jalur tersebut hingga Washington menerima apa yang disebut Teheran sebagai kekalahan strategis.

Iran Menegaskan Selat Hormuz Tetap Berada Di Bawah Kendali Teheran

Perilaku Gharibabadi menunjukkan bahwa Iran tidak bermaksud menyerahkan pengawasan di Selat Hormuz kepada Amerika Serikat.

Teheran bahkan menyatakan bahwa jalur air tersebut akan dibuka atau ditutup sesuai dengan keputusan Iran.

Pernyataan itu merupakan tantangan langsung terhadap rencana Trump yang ingin menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.

Persoalan mengenai otoritas atas selat tersebut kini menjadi salah satu titik paling rentan dalam perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Jalur ini juga berperan penting dalam perdagangan energi global. Sebelum konflik memburuk, lebih dari 130 kapal tercatat melewati Selat Hormuz setiap hari.

Karena itu, gangguan terhadap jalur tersebut dapat berdampak tidak hanya terhadap AS dan Iran, tetapi juga terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia.

Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Berhenti Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Tidak Berjalan Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Berhenti Total Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti Sama Sekali Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Tidak Bisa Berjalan Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti Sepenuhnya Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Berhenti Sementara Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti Secara Total Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Terhenti Sama Sekali

Akibat perselisihan antara Washington dan Teheran, kegiatan pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan yang signifikan.

Lacak data kapal menunjukkan hanya dua kapal yang melewati Selat Hormuz pada hari Jumat, dan tidak ada tanda-tanda pengiriman minyak mentah melalui jalur tersebut.

Satu hari sebelumnya, hanya sembilan kapal yang tercatat melewati. Sedangkan pada hari Rabu, jumlahnya bahkan hanya lima kapal.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang, saat lebih dari 130 kapal melintasi selat itu setiap hari.

Penurunan jumlah kapal yang berlalu menunjukkan seberapa besar dampak perang terhadap kegiatan perdagangan laut.

Keadaan ini juga memperbesar kekhawatiran mengenai pasokan minyak dan gas karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman energi global.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, gangguan tersebut dapat menyebabkan kenaikan biaya energi dan transportasi serta memberatkan perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Iran Belum Siap Kembali Berunding dengan Amerika Serikat

Sampai saat ini, Iran belum memberikan kepastian untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa belum ada keputusan terkait kelanjutan diskusi langsung dengan pihak Washington.

Menurut Araghchi, Qatar dan Pakistan masih melakukan komunikasi serta pertukaran pesan dengan Iran. Namun, komunikasi tersebut belum dianggap sebagai pembicaraan resmi.

Araghchi juga menolak anggapan bahwa terdapat gencatan senjata selama 60 hari yang perlu diperpanjang.

Ia menyatakan bahwa saluran diplomatik sebelumnya sudah tidak efisien. Iran kini berusaha menemukan jalur sementara yang nantinya bisa berkembang menjadi dasar kesepakatan akhir.

Pakistan sendiri masih mendukung pelaksanaan Memorandum Islamabad 18 Juni sebagai langkah untuk menyelesaikan konflik.

Di sisi lain, Irak dikabarkan sedang berdiskusi dengan Amerika Serikat dan Iran agar jalur ekspor minyaknya tetap bisa beroperasi melalui Selat Hormuz.

Harga Minyak Ikut Terdampak

Selanjutnya, ketegangan di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap pasar energi global.

Harga minyak kembali naik pada Jumat karena upaya mengakhiri konflik antara AS dan Iran belum membuahkan kesepakatan. Ancaman blokade yang berlangsung lama juga membuat risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi.

Harga minyak mentah Brent meningkat sebesar 0,7 persen menjadi 87,68 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat naik 0,3 persen menjadi 81,49 dolar AS per barel.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa pasar masih memperhatikan perkembangan konflik serta masa depan Selat Hormuz.

Jika lalu lintas kapal tetap terganggu, dampaknya berpotensi menyebar mulai dari harga minyak hingga biaya transportasi, industri, dan harga berbagai produk yang bergantung pada energi.

Dengan situasi ini, Selat Hormuz kini tidak hanya berperan sebagai jalur perdagangan penting, tetapi juga menjadi pusat persaingan kepentingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Washington terus-menerus memberikan tekanan kepada Teheran, sementara Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerahkan kendali terhadap jalur tersebut.

Ancaman Trump untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat berpotensi memicu babak baru dalam konflik yang hingga saat ini belum menemukan solusi diplomatik.

(news.com / Namira)

TerPopuler