JATENG.COM, SALATIGA- Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali menunjukkan kekuatannya di dunia pendidikan global.
Berdasarkan kerja sama antara Fakultas Interdisiplin (FID), Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan FID UKSW, dan Universitas Sydney (USYD) Australia, program tahunan Sustainable Development Field School (SDFS) 2026 secara resmi diadakan.
Memasuki edisi keempatnya, acara ini dibuka secara langsung di Gedung G Kampus UKSW, pada hari Minggu (12/7/2026) dan berlangsung hingga hari Minggu (26/7/2026).
Wakil Rektor untuk Bidang Keuangan, Infrastruktur, dan Perencanaan (WR KIP) Priyo Hari Adi, Ph.D., menyambut dengan antusias rombongan mahasiswa dan akademisi yang sedang mengikuti program belajar selama dua minggu di Indonesia.
Di dalam pidatonya, Priyo Hari Adi, Ph.D., menekankan bahwa SDFS bukan hanya sebuah program rutin, tetapi merupakan simbol kemitraan yang terus berkembang untuk memperkuat penelitian, pendidikan, serta sebagai jembatan budaya antar negara.
Selama lebih dari empat puluh tahun, UKSW tetap berpegang pada realitas setempat namun memiliki pandangan yang global. Kami sangat memahami bahwa menghadapi tantangan pembangunan saat ini tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan kolaborasi lintas bidang, lintas budaya, bahkan lintas negara," ujar Priyo Hari Adi, Ph.D.
Ia percaya bahwa kerja sama antara UKSW dan University of Sydney ini menjadi sarana strategis untuk menggabungkan kearifan lokal dengan perspektif global.
Melalui Field School ini, peserta dihadapkan pada tantangan untuk membandingkan teori yang mereka kuasai dengan kenyataan di lapangan.
Mereka akan berkomunikasi langsung dengan penduduk, bertukar pandangan dengan para ilmuwan global, serta mengkaji isu pembangunan.
Priyo Hari Adi, Ph.D., berharap, hasil dari pengalaman intensif ini dapat meningkatkan kualitas penelitian akademik serta menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat luas.
Pada tahun ini, SDFS diikuti oleh 34 peserta yang terdiri dari 22 mahasiswa University of Sydney dan bergabung dengan mahasiswa UKSW dari tiga jalur program studi, yaitu Sarjana Terapan Destinasi Pariwisata, Magister Studi Pembangunan, serta Doktor Studi Pembangunan.
Selama kegiatan, peserta tidak akan duduk diam di dalam kelas.
Mereka melakukan pembelajaran berbasis pengalaman melalui gabungan kuliah, observasi langsung di lapangan, serta mengalami sendiri ritme kehidupan masyarakat setempat dengan tinggal di rumah-rumah penduduk (homestay).
Rute eksplorasi mereka berada di berbagai lokasi penting Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, mulai dari Semarang, Demak, Jepara, Wonogiri, hingga Yogyakarta.
Menariknya, SDFS 2026 kali ini menawarkan pendekatan yang lebih perbandingan.
Peserta diajak untuk membandingkan langsung bagaimana proses pembangunan berlangsung di kawasan pesisir Jepara–Demak dibandingkan dengan daerah pedesaan di Slogohimo, Wonogiri.
Melalui interaksi langsung dengan pemerintah, pelaku industri, nelayan, dan masyarakat desa, mahasiswa diajarkan untuk memandang isu pembangunan berkelanjutan dari perspektif yang beragam, sekaligus mengasah kemampuan riset lapangan mereka.
Koordinator Field School UKSW, Linda Susilowati Ph.D, menambahkan bahwa kurikulum program ini sengaja dirancang agar mahasiswa mampu meninggalkan zona nyaman teori teks.
"Melalui proses pengalaman budaya ini, kami berharap peserta dapat mengembangkan empati yang kuat, baik terhadap posisi pengambil kebijakan maupun masyarakat yang terdampak, sekaligus meningkatkan kemampuan riset lapangan mereka," kata Linda.
Pada hari pertama, ritme akademik langsung terasa melalui sesi kuliah umum yang dihadiri oleh sejumlah ahli.
Dimulai dari Jeff Neilson, Ph.D. (The University of Sydney), Yunie Rahmat, Ph.D. (Institut Teknologi Bandung), Dr. Ir. Sri Redjeki, M.Si., hingga Dr. Ir. Kuncoro C. Nugroho, M.M. dari Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia.
Setelah sesi diskusi yang sibuk, rangkaian hari pertama diakhiri dengan makan malam santai untuk menciptakan suasana yang lebih rileks dan memperkuat hubungan antara peserta.
Melalui Sustainable Development Field School, UKSW kembali menunjukkan tindakan nyata dalam memperluas jaringan internasional.
Program ini menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yang berfokus pada pendidikan berkualitas, serta SDGs ke-17 yang menekankan pentingnya kerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagai sebuah perguruan tinggi swasta yang terakreditasi unggul, UKSW telah beroperasi sejak tahun 1956 dengan memiliki 15 fakultas dan 65 program studi dari jenjang D3 hingga S3, di mana 36 di antaranya mendapatkan akreditasi unggul dan A.
Berada di Salatiga, UKSW terkenal dengan sebutan Kampus Indonesia Mini, yang menunjukkan keragaman mahasiswanya yang datang dari berbagai wilayah.
Selain itu, UKSW juga terkenal sebagai "Creative Minority" yang bertindak sebagai agen perubahan dan sumber inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (***)