
JATENG.COM, PURWOKERTO- Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menegaskan komitmennya untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif di Indonesia.
Pada hari Rabu, 29 Juli 2026, UMP menyelenggarakan acara "Seminar Penguatan Ekosistem Pendidikan Inklusif" bekerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND).
Pada kesempatan ini, UMP secara resmi mengenalkan unit layanan khusus bagi penyandang disabilitas yang diberi nama Smart Disability Service Center (SDSC).
Ketua Panitia Seminar, Dr. Sriyanto, menyampaikan bahwa inisiatif ini dibuat dengan tujuan membentuk sistem pendidikan yang mampu menampung seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya bentuk perbedaan perlakuan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, UMP mengadakan kemitraan strategis dengan berbagai pihak, termasuk Komisi Nasional Disabilitas, Sentra Satria Banyumas yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas.
"Tujuan dari kegiatan seminar ini sebenarnya adalah ingin menciptakan kerja sama dan menjalankan amanat undang-undang, khususnya terkait pendidikan inklusif di Indonesia, sehingga Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi institusi pendidikan yang siap menerima seluruh masyarakat tanpa memandang kondisi atau situasi apa pun," kata Dr. Sriyanto saat diwawancarai di tengah acara.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama UMP, Assoc. Prof. Saefurrohman, Ph.D., menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif bukan hanya pilihan bagi lembaga pendidikan, tetapi sebuah kewajiban hukum yang harus diprioritaskan.
"Pendidikan inklusif ini merupakan tugas yang diamanatkan oleh undang-undang bagi kita para tenaga pendidik. Mulai dari PAUD, pendidikan dasar dan menengah, hingga perguruan tinggi, kita sudah, karena ini adalah undang-undang yang harus ditaati oleh Bapak Ibu, kita wajib memprioritaskan pendidikan inklusif," tegas Assoc. Prof. Saefurrohman.
Menariknya, komitmen UMP terhadap penyandang disabilitas tidak hanya terbatas pada tingkat regulasi akademik.
Wakil Profesor Saefurrohman juga berbagi kisah menginspirasi mengenai Efrisa, seorang mahasiswi disabilitas yang menggunakan kursi roda dari program studi Pendidikan Informatika UMP.
Meskipun menghadapi keterbatasan fisik, Efrisa mampu menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cumlaude.
Melihat komitmen dan inovasi yang dihasilkannya, pihak kampus akhirnya secara resmi menunjuk Eprisa sebagai staf di UMP, di mana ia kini bertanggung jawab langsung atas program penerimaan mahasiswa baru di bidang studinya.
Di tempat kami, di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, kami berkomitmen untuk terus menerima mahasiswa dengan disabilitas ini.
Alhamdulillah, dua tahun yang lalu, salah satu mahasiswiku dari jurusan pendidikan informatika berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude, dan alhamdulillah berkat prestasinya tersebut kami memberikannya posisi sebagai staf di Universitas Muhammadiyah Purwokerto," ujar Assoc. Prof. Saefurrohman menjelaskan pencapaian tersebut.
Dengan peluncuran Smart Disability Service Center (SDSC) dan kerja sama lintas sektor, UMP berharap tetap menjadi penggerak utama pendidikan inklusif yang mendukung mahasiswa dengan kebutuhan khusus, serta menciptakan komunitas yang mendukung di tengah masyarakat. (*/rhn/chy)